Kumparan Logo

Analis Beberkan Penyebab IHSG Anjlok 2,39 Persen Jelang Penutupan Sore Ini

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka terkoreksi pada level 5.357 dan terus melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, (27/10). Menurut data RTI, IHSG anjlok 2,39 persen ke level 52.47 pada pukul 15.46 WIB sore ini.

Penurunan indeks terpengaruh oleh kombinasi sentimen eksternal, tekanan nilai tukar rupiah, serta derasnya arus dana asing yang keluar dari pasar saham domestik.

Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia Lukman menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor internal dan eksternal.

"Faktor eksternal dipicu oleh harga minyak mentah Brent yang melonjak ke level USD 115 per barel, sehingga meningkatkan risiko inflasi dan pengetatan kebijakan moneter global," kata Sarkia, Selasa, (27/10).

Kondisi tersebut memperkuat imbal hasil US Treasury dan indeks dolar AS (DXY), yang kemudian menekan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 18.141 per dolar AS.

Dari dalam negeri, pelaku pasar menyoroti eskalasi hubungan diplomatik Indonesia-Singapura serta pelepasan portofolio saham oleh investor asing di tengah rilis laporan keuangan emiten.

Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menyampaikan bahwa koreksi IHSG juga didorong oleh aksi jual agresif pemegang saham asing pada emiten berkapitalisasi besar (big cap).

Selain itu, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI terhadap status klasifikasi pasar saham Indonesia serta penataan transparansi bursa membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see.

"Ketika investor asing melakukan aksi jual secara agresif, tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar semakin kuat dan menyeret indeks secara keseluruhan," ujar Nafan.

Nafan menambahkan, pelemahan IHSG yang sempat mendekati 3 persen juga diperparah oleh faktor teknikal, seperti aksi ambil untung (profit taking), penembusan level support, dan pemicu batas henti rugi (cut loss).

Kendati demikian, Nafan mengingatkan bahwa koreksi indeks tidak serta-merta menggambarkan penurunan fundamental seluruh emiten, melainkan bentuk peningkatan premi risiko dan penurunan tingkat kepercayaan investor sementara waktu.