Analis Beberkan Penyebab IHSG Anjlok 3 Persen
·waktu baca 2 menit

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada penutupan sesi I perdagangan Jumat (24/4), melanjutkan pelemahan sejak pembukaan pagi.
Berdasarkan data Stockbit, indeks komposit terperosok ke zona merah di level 7.152,85, atau turun 225,75 poin (-3,06 persen).
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai penurunan masih dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah masih tinggi, terutama terkait kondisi di Selat Hormuz yang dinilai cukup kompleks akibat potensi blokade.
Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak hingga menembus level di atas USD 100 per barel.
“Sehingga para investor global kemudian melakukan aksi flight to safety ataupun juga risk averse untuk aset investasi yang ada di energy market yang berkategori net oil import country,” kata Myrdal saat dihubungi kumparan, Jumat (24/4).
Ia melanjutkan, kenaikan harga minyak di atas USD 100 per barel juga dinilai meningkatkan tekanan terhadap negara net importir melalui imported inflation.
Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan fiskal yang tepat, hal ini berpotensi menekan kondisi makroekonomi.
“Ya walaupun dari Indonesia kita lihat sejauh ini masih relatif solid untuk dampaknya,” lanjut Myrdal.
Selain faktor geopolitik, Myrdal juga menyebut pelaku pasar global tengah mencermati perkembangan terkait keputusan MSCI terhadap status investasi Indonesia.
Meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan berbagai langkah perbaikan, termasuk mendorong peningkatan porsi saham beredar atau free float dalam indeks seperti IDX30 dan IDX80.
“Tapi memang investor masih wait and see terhadap kondisi tersebut sehingga mereka ambil aman dulu,” ucap Myrdal.
Menambahkan Myrdal, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi yang wajar.
Secara teknikal, indeks diperkirakan masih berpotensi menguji area wave (ii) atau wave (a) sebagai bagian dari pola pergerakan jangka pendek.
“Berdasarkan indikator, RSI menunjukkan sinyal positif didukung kenaikan volume, namun Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif,” kata Nafan kepada kumparan.
Di tengah kondisi tersebut, Nafan menyatakan pasar masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang memicu ketidakpastian terhadap prospek perdamaian ke depan. Situasi ini mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
“Apalagi rupiah terpantau melemah sekitar 105 poin dan ditutup di kisaran Rp 17.280. Di sisi lain, harga minyak Brent melonjak ke kisaran USD 106 per barel,” tutur Nafan.
