Analis Beberkan Penyebab Merosotnya IHSG: Rupiah hingga Suku Bunga AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 128,30 poin atau 2,17 persen ke level 5.814,72 pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (15/10). Analis sekaligus Founder Republik Investor menilai pelemahan ini bukan sekadar koreksi teknikal, melainkan kombinasi antara memburuknya sentimen global, meningkatnya kekhawatiran terhadap arah suku bunga Amerika Serikat (AS), pelemahan rupiah, dan tingginya risiko geopolitik.
Kenaikan inflasi konsumen AS pada September 2026 tercatat 3,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,6 persen. Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,6 persen. Hal tersebut memperkuat kekhawatiran bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama
“Kondisi ini membuat aset berdenominasi dolar AS relatif lebih menarik, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang dan mendorong investor global untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya,” kata Hendra kepada kumparan, Kamis (15/10).
Hendra menjelaskan pelemahan rupiah yang mendekati Rp 18.000 per dolar AS turut menambah tekanan terhadap pasar saham domestik. Bagi investor asing, pelemahan rupiah dapat mengurangi nilai keuntungan investasi ketika dikonversi kembali ke dolar AS. Kondisi ini juga meningkatkan risiko arus keluar dana asing (capital outflow).
Di dalam negeri, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, dan barang modal. Jika berlanjut, kondisi tersebut dapat menambah tekanan inflasi dan menjadi tantangan bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Jadi, pasar saat ini tidak hanya mengkhawatirkan penurunan harga saham, tetapi juga kemungkinan dampak lanjutan dari kombinasi pelemahan kurs, biaya pendanaan, dan perlambatan ekonomi,” ujar Hendra.
Dari sisi teknikal, penembusan level 5.850 menjadi perhatian utama karena area tersebut sebelumnya dipandang sebagai support atau batas penahan penurunan. Ketika support ditembus dengan tekanan jual yang kuat, sebagian pelaku pasar teknikal dapat memilih mengurangi posisi untuk membatasi kerugian.
Hal ini berpotensi memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek, terutama apabila tidak muncul pembelian yang cukup kuat untuk menahan penurunan.
“Untuk pergerakan IHSG hingga penutupan hari ini, saya melihat risiko koreksi lanjutan masih cukup besar, terutama apabila tekanan jual asing meningkat, rupiah kembali melemah, dan bursa regional tetap berada dalam tekanan. Meski demikian, level 5.745 dan 5.616 sebaiknya dipandang sebagai skenario teknikal, bukan kepastian bahwa IHSG akan turun sampai ke sana,” jelasnya.
Namun, Hendra mengungkapkan peluang technical rebound tetap terbuka apabila saham-saham berkapitalisasi besar mulai mengalami aksi beli, tekanan jual mereda, dan investor domestik masuk untuk menyerap saham yang dilepas.
Senada, berdasarkan Riset BRI Danareksa Sekuritas yang terbit usai penutupan sesi I, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh sentimen negatif dari kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi turun ke level 5.745. Jika tekanan berlanjut, indeks berisiko melemah hingga 5.616. Sementara itu, area 5.850 hingga 6.000 menjadi level resistance atau batas atas yang perlu ditembus untuk memperkuat peluang pemulihan.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga masih berada di zona negatif, yang menunjukkan momentum pelemahan masih berlangsung. Selain itu, pola head and shoulders mengindikasikan risiko penurunan setelah IHSG gagal bertahan di atas level 6.000.
Sentimen negatif lainnya datang dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Ancaman kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi menambah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Situasi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Di sisi lain, data perdagangan China menunjukkan perkembangan positif. Surplus perdagangan China pada September mencapai USD 133,53 miliar. Ekspor tumbuh 36,3 persen secara tahunan, sedangkan impor naik 31 persen.
Peningkatan impor China berpotensi mendukung permintaan komoditas Indonesia. Namun, sentimen positif ini belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari kondisi global yang masih tidak menentu.
Pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi produsen AS (Producer Price Index/PPI) September yang dijadwalkan pada Kamis (15/10). Data tersebut akan menjadi perhatian investor untuk melihat perkembangan tekanan biaya produksi dan kemungkinan dampaknya terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
