Kumparan Logo

Apa Penyebab Game Online Lokal Kurang Bersaing dengan Produk Impor?

kumparanBISNISverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Game PUBG Mobile di Honor 8A. Foto: Muhamamd Fikrie/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Game PUBG Mobile di Honor 8A. Foto: Muhamamd Fikrie/kumparan

Saat ini industri game Indonesia dinilai masih kalah bersaing dengan industri game asing atau impor. Hal ini dapat terlihat dari mayoritas game online yang sering dimainkan masyarakat Indonesia adalah produk asing, misalnya PUBG dan Mobile Legend.

Ketua Harian Asosiasi Game Indonesia (AGI), Jan Faris Majd, pun angkat bicara. Menurutnya, minimnya investasi menjadi salah satu penyebab game lokal baik offline maupun online lokal sulit bersaing oleh game impor.

“Negara yang sering produksi game lokal seperti China, mereka punya in house production dari investasi,” katanya kepada kumparan, Sabtu (30/3).

Adapun investasi yang dimaksud seperti biaya pengembangan infrastruktur industri game dan promosi. Bahkan, Jan menjelaskan beberapa tahun lalu ada salah satu perusahaan game yang menggelontorkan dana sekitar Rp 7 miliar hanya untuk promosi.

“Persaingan (industri game) sangat ketat. Kalau bersaing head to head seperti PUBG (dan game online lokal) belum mampu (bersaing) dalam segi kualitas. Dulu ada tagline mainkan dan menangkan Rp 7 miliar salah satu studio menggelontorkan Rp 7 miliar,” paparnya.

Tim DoTA2, YouPorn, di Gamergy 2014, Spanyol Foto: Flickr/ artubr

Meski demikian, Jan menegaskan jika game lokal tidak kalah dari sisi visual dibanding game impor. Selain itu, ia menganggap saat ini game lokal sudah berkembang.

“Kita sudah mampu membuat game enggak kalah kalau bersaing dari sisi visual. Salah satu Dreadout,” cetusnya.

Sementara itu, gamer profesional Monica Carolina atau yang akrab disapa Nixia menambahkan jika game buatan lokal sudah menunjukkan perkembangan dari sisi kualitas visual dan alur cerita. Hanya saja, jika membicarakan game online masih tertinggal jauh oleh game impor.

“Ya kalau ngomongin game online, belum ada game lokal yang terkenal. Tapi kalau dari sisi alur cerita game lokal enggak kalah. Kita lebih sering angkat cerita horor,” jelasnya.

Sementara itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) terus mendorong terciptanya investasi pada sektor industri game adalah dengan berpartisipasi dalam gelaran pertunjukan game online dunia. Bekraf sendiri sangat terbuka apabila ada investor yang ingin memproduksi game di dalam negeri.

Data Soal Game Online. Foto: Dok. Istimewa

“Ada salah satu founder game di Bandung. Dia sebagai pembuat game terbesar di Indonesia. Baru pulang dari San Fransisco dikirimkan oleh Bekraf ke Game Connection of America,” ucap Kepala Bekraf, Triawan Munaf.

Sebagai catatan, Bekraf mencatat pengguna game di Indonesia mayoritas laki-laki dengan persentase sebesar 56 persen, sementara perempuan sebesar 44 persen. Sementara 45 persen pengguna melalui smartphone. Total pendapatan dari industri game sekitar USD 879,7 juta.

Sebelumnya, aplikasi game online ternyata membebani Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Usut demi usut penyebabnya adalah karena banyak game online yang merupakan buatan luar negeri, bukan produksi lokal.

Ekonom (Indef), Bhima Yudhistira, menjelaskan model bisnis game online memiliki risiko jangka panjang bagi NPI. Sebab, sebagian besar game yang didownload adalah produk perusahaan asing.

“Ketika pemain melakukan pembelian voucher misalnya meskipun dengan rupiah akan masuk ke rekening perusahaan game asing. Tentu hasil pembayaran tersebut akan ditransfer ke negara asalnya. Jika asumsinya rata-rata pembelian voucher game PUBG dan Mobile Legend Rp 100 ribu per orang tinggal dikalikan 20-40 persen total pemain yang jumlahnya 2 juta orang. Maka dana yang dikonversi ke dolar setara Rp 80 miliar per bulannya,” sebutnya.