Apindo Catat 73.992 Pekerja Terdampak PHK Januari-Maret 2025

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membeberkan ada sebanyak 73.992 pekerja yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepanjang 1 Januari 2025 sampai 10 Maret 2025.
Angka tersebut berdasarkan data jumlah peserta yang tidak lagi menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan selama rentang waktu tersebut.
Dari total jumlah pekerja yang terdampak PHK, sebanyak 40.683 pekerja memilih untuk mencairkan klaim Jaminan Hari Tua (JHT).
Sementara, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan jumlah pekerja terdampak PHK sepanjang Januari hingga 23 April 2025 adalah sebanyak 24.036 orang.
Meski demikian, Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menilai Kemnaker telah menyadari adanya peningkatan kasus PHK yang signifikan di awal tahun ini.
Dia juga tidak menampik, PHK beriringan dengan gelontoran investasi yang masuk dan menciptakan lapangan kerja baru. Hanya saja, jumlah pekerja yang mulai masuk dunia kerja juga terbilang banyak.
"Kita mesti menyadari bahwa di luar daripada PHK kita juga harus menyiapkan 3-4 juta pekerjaan baru setiap tahunnya. Jadi walaupun sudah ada pekerjaan baru dari investasi yang masuk, ini tidak bisa memadai dengan kondisi yang ada," kata Shinta dalam media briefing di Kantor Apindo, Selasa (13/5).
Dengan demikian, menurut Shinta perlu dilakukan revitalisasi industri padat karya imbas peningkatan jumlah kasus PHK yang signifikan di awal tahun ini.
“Makanya sekarang kenapa kita perlu revitalisasi padat karya karena PHK ini menjadi satu perhatian yang sangat mengkhawatirkan buat kita,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama Shinta juga membeberkan data survei Apindo mengenai kondisi perusahaan pada Maret 2025 tentang alasan perusahaan melakukan PHK.
Berdasarkan data itu sebanyak 69,4 persen perusahaan melakukan PHK karena penurunan permintaan, kemudian 43,3 persen karena kenaikan biaya produksi, 33,2 persen karena kenaikan upah minimum, 21,4 persen karena tekanan produk impor dan 20,9 persen karena faktor teknologi atau otomasi.
Selain itu berdasarkan hasil survei tersebut diketahui 67,1 persen perusahaan tidak berencana melakukan investasi baru selama satu tahun ke depan.
