Kumparan Logo

Apindo Respons PMI Manufaktur RI Kontraksi 49,6 pada Juni: Alarm bagi Industri

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi utilitas, infrastruktur, dan tenant di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah sebelum diresmikan Presiden Jokowi, Kamis (25/7/2024). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi utilitas, infrastruktur, dan tenant di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah sebelum diresmikan Presiden Jokowi, Kamis (25/7/2024). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Pengusaha memandang kembali kontraksinya Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia menandakan sinyal pelemahan perlu dicermati secara serius.

PMI manufaktur Indonesia terkontraksi di level 46,9 pada Juni 2026, dari Mei yang berada di titik tengah 50. Pelemahan skor ini juga melampaui kontraksi pada April 49,1.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan PMI manufaktur Indonesia mengalami penurunan cukup tajam pada Juni dan menjadi skor terendah dalam setahun terakhir.

Menurut Shinta, hal ini menunjukkan proses stabilisasi yang sebelumnya mulai terlihat belum berlanjut menjadi pemulihan yang kuat. Dia juga menilai kondisi ini juga mengonfirmasi tekanan terhadap sektor manufaktur masih cukup besar.

“Kontraksi pada Juni menunjukkan tekanan yang kembali menebal, baik dari sisi permintaan, produksi, biaya, maupun keputusan operasional perusahaan,” kata Shinta kepada kumparan, Sabtu (4/7).

Pelemahan permintaan dari pasar domestik maupun ekspor menjadi faktor utama yang membebani sektor manufaktur. Pesanan baru yang turun untuk pertama kalinya dalam 3 bulan dengan laju tercepat dalam setahun, mencerminkan melemahnya daya beli dan permintaan pasar di tengah kenaikan harga.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani menjadi pembicara dalam acara IKF 2023 di Pacific Place, Jakarta, Rabu (11/10/2023). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

“Pada saat yang sama, tekanan eksternal masih sangat kuat, seiring ketidakpastian global, perlambatan di sejumlah pasar utama, dan dampak tensi geopolitik terhadap perdagangan serta rantai pasok,” ucap Shinta.

Kemudian ada juga tekanan dari sisi biaya produksi yang masih sangat tinggi dengan adanya kenaikan harga bahan baku, energi, gangguan rantai pasok, juga volatilitas nilai tukar rupiah. Sederet kondisi ini memberikan tekanan langsung terhadap struktur biaya industri.

Shinta menyebut kondisi ini memberatkan dunia usaha karena sebagian besar kebutuhan bahan baku dan barang di industri nasional masih bergantung pada impor. Dengan demikian biaya produksi masih sangat dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah.

Tekanan lain yang dihadapi dunia usaha adalah peningkatan ketidakpastian usaha membuat pelaku industri semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan produksi, pembelian bahan baku, ekspansi, maupun penyerapan tenaga kerja.

Ilustrasi kawasan industri. Foto: Shutter Stock

Dalam laporan PMI, ada catatan soal penurunan pembelian input, juga penyesuaian tenaga kerja, dan disebut terjadi pada laju tercepat dalam hampir lima tahun. Dengan demikian, menurut Shinta, kontraksi ini tidak hanya terjadi di level angka indeks, tetapi dikhawatirkan sudah mulai tercermin dalam keputusan operasional perusahaan.

Shinta menilai pelaku industri kini lebih memilih bertahan dengan menjaga arus kas, menyesuaikan produksi dengan permintaan yang melemah, mengurangi pembelian bahan baku, dan menunda ekspansi.

Menurut dia, industri yang bergantung pada bahan baku impor, energi, dan pasar ekspor diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar dibanding sektor yang bertumpu pada pasar domestik.

Dalam jangka menengah hingga panjang, Apindo mendorong percepatan reformasi struktural, seperti penyederhanaan regulasi, efisiensi logistik, penguatan industri hulu, dan pengembangan bahan baku domestik guna mengurangi ketergantungan impor..

“Kami melihat penurunan PMI Juni ini sebagai warning signal yang perlu segera direspons secara terukur. Sektor manufaktur Indonesia masih memiliki daya tahan, terutama karena basis pasar domestik yang besar dan potensi pergeseran rantai pasok dunia, tetapi daya tahan tersebut tidak boleh dianggap otomatis,” terangnya.

“Tanpa stabilisasi biaya, penguatan daya beli, dan perbaikan iklim usaha, tekanan terhadap manufaktur masih berisiko berlanjut dalam beberapa bulan ke depan,” tutup Shinta.