Apindo Sebut Pelemahan Rupiah Tekan Margin Pengusaha Domestik hingga 10 Persen
ยทwaktu baca 3 menit

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menekan keuntungan atau margin pengusaha non eksportir hingga 10 persen.
Ketua Bidang Perdagangan Apindo, Benny Soetrisno, menjelaskan pelemahan rupiah tidak terlalu berdampak bagi eksportir. Meski eksportir impor bahan baku naik tetapi turut mendapat kenaikan nilai dari ekspor produknya.
Sementara bagi importir yang menjual produknya di dalam negeri mengalami penurunan margin hingga 10 persen.
"Untuk eksportir tidak ada (dampak), tapi yang menjual dalam negeri yang mengalami penurunan margin sebesar 10 persen," ungkapnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (30/5).
Hingga hari ini pukul 15.30 WIB, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.881 per Dolar AS, sedikit menguat setelah sempat menembus di atas Rp 17.900 pada pekan ini.
Daftar Sektor Industri yang Terpukul
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menilai anjloknya nilai tukar rupiah yang terus berlanjut ini tentu menjadi perhatian dunia usaha.
Pasalnya, pengusaha mencatat pelemahan sudah terjadi sejak awal tahun, yakni sekitar Rp 16.800 per dolar AS pada awal Januari.
Kemudian, rupiah kembali melemah hingga mendekati level psikologis Rp 17.000 pada akhir kuartal I 2026, sebelum terus mengalami pelemahan hingga kini mendekati Rp 17.900 per dolar AS pada akhir Mei 2026.
"Dunia usaha telah menghadapi tekanan nilai tukar ini secara bertahap selama beberapa bulan terakhir, sehingga dampaknya terhadap sektor riil semakin terasa," tegas Shinta kepada kumparan.
Shinta menjelaskan, bagi dunia usaha, tantangan utama bukan hanya pada level nilai tukar, namun dampak yang ditimbulkan terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, dan kepastian berusaha. Hal ini diperparah dengan kenaikan biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan.
Pasalnya, ketergantungan impor bahan baku masih berada di kisaran 70 persen, sehingga pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi.
"Tekanan besar di antaranya dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta berbagai sektor yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya," ungkapnya.
Shinta mencatat dampak kepada aktivitas usaha mulai terlihat melalui penurunan optimisme pelaku industri. PMI manufaktur yang kembali masuk zona kontraksi sejak Juli 2025 dan tren penurunan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan bahwa sektor riil sedang menghadapi fase yang lebih menantang.
Pada kuartal I 2026, sekitar 10 subsektor manufaktur tumbuh di dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, dan 4 subsektor manufaktur di antaranya alami kontraksi. Kendati begitu, dia memastikan dunia usaha masih berupaya melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga keberlanjutan dan mempertahankan lapangan kerja.
"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar," jelas Shinta.
Dengan demikian, Shinta menyebut para pengusaha saat ini membutuhkan kestabilan dan kredibilitas makro ekonomi dan kepercayaan pasar melalui koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor riil.
"Perlu diimbangi dengan langkah-langkah konkret untuk menurunkan berbagai komponen high cost economy yang selama ini membebani dunia usaha, mulai dari biaya logistik, energi, perizinan, hingga cost of compliance yang masih relatif tinggi," tandas Shinta.
