Apindo Sebut Sektor Padat Karya Bisa Terdampak Konflik Iran-Israel
·waktu baca 2 menit

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai konflik Israel-Iran bisa berpengaruh pada sektor padat karya dalam negeri. Salah satunya akibat harga minyak dunia yang melonjak yang berpotensi mempengaruhi ongkos produksi dan logistik sektor padat karya.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menjelaskan dampak ekonomi akibat memanasnya perang Iran-Israel bakal dirasakan semua sektor. Namun, sektor padat karya menjadi sektor yang rentan terdampak.
“Ini khususnya paling rentan pada sektor padat karya yang selama ini sudah struggling mempertahankan eksistensi usaha,” kata Shinta kepada kumparan, Senin (16/6).
Shinta memproyeksi dampak paling nyata dari konflik tersebut adalah inflasi atas impor kebutuhan pokok seperti BBM. Dengan begitu Shinta berharap agar dampak ini bisa dikendalikan oleh respons pemerintah Indonesia.
“Dengan demikian, iklim usaha kita lebih stabil dan tidak semakin menekan pelaku usaha yang selama ini sudah rentan,” ujarnya.
Meski begitu, secara keseluruhan Shinta menuturkan Indonesia tidak memiliki aktivitas ekonomi yang signifikan baik dengan Israel maupun dengan Iran secara langsung.
Karena itu dampak yang dialami lebih terbatas pada bagaimana konflik tersebut mempengaruhi perekonomian global secara umum.
"Seperti efek terhadap kelancaran dan biaya logistik perdagangan global khususnya ke wilayah Eropa & Afrika, fluktuasi supply dan harga minyak global, inflasi atas barang impor atau melemahnya arus FDI ke Indonesia,” kata Shinta.
Terkait ekspor dan impor, Ketua Apindo bidang Ketenagakerjaan Bob Azam melihat akan terdapat pengaruh terhadap ekspor produk padat karya dan impor beberapa produk dari dan ke wilayah Timur Tengah, Teluk dan Eropa.
Hal ini karena jalur logistik untuk ekspor dan impor ke wilayah tersebut bisa mengalami perubahan.
“Kita kan impor bahan pangan seperti terigu buat mie, kedelai buat tempe, energy seperti gas buat pupuk dan BBM. Mungkin logistik nya yang bisa jadi menuju ke Eropa terganggu,” kata Bob.
Sebelumnya, harga minyak melonjak pada Jumat (13/6) dan ditutup naik sekitar 7 persen setelah Israel dan Iran saling melancarkan serangan udara, memicu kekhawatiran investor bahwa konflik ini bisa mengganggu ekspor minyak secara luas dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada level USD 74,23 per barel, naik USD 4,87 atau 7,02 persen pada Jumat (13/6). Sebelumnya, harga Brent sempat melonjak lebih dari 13 persen ke level intraday tertinggi USD 78,50 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 27 Januari. Selama sepekan, Brent tercatat naik 12,5 persen.
Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berakhir di USD 72,98 per barel, naik USD 4,94 atau 7,62 persen.
