Bisnis
·
24 Februari 2021 11:26

Arcandra Sebut RI Tak Masuk Radar Elon Musk untuk Pengembangan Mobil Listrik

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Arcandra Sebut RI Tak Masuk Radar Elon Musk untuk Pengembangan Mobil Listrik (102267)
Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar terlihat di Kementerian ESDM, Selasa (22/10/2019). Foto: Ema Fitriyani/kumparan
Elon Musk akhirnya memutuskan Bangalore India sebagai pusat pengembangan teknologi dan produksi mobil listrik Tesla, di luar Silicon Valley Amerika Serikat. Sebelumnya ramai diberitaan, Tim Elon Musk berencana menjajaki investasi di Indonesia setelah dilobi Presiden Jokowi dan Menko Maritim Luhut Pandjaitan.
ADVERTISEMENT
Pilihan ke India bukan tanpa alasan. Mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyebutkan secara tak langsung, bila Indonesia sebetulnya belum masuk radar Elon Musk untuk pengembangan dan produksi mobil listrik Tesla.
Elon Musk mempertimbangkan 2 negara, yakni India dan Israel.
"Kalau Tesla ingin mengembangkan technology centre-nya di luar Amerika Serikat (AS), secara logika mereka akan mencari kota yang ekosistemnya mendekati apa yang ditawarkan oleh Silicon Valley. Dua kota di dunia yang yang mendekati persyaratan ini adalah Tel Aviv di Israel dan Bangalore di India," kata Arcandra seperti dikutip kumparan dalam akun Instagram pribadinya, Rabu (24/2)
Pertimbangan Elon Musk terhadap kedua negara tersebut, lanjut Arcandra, adalah soal ekosistem seperti ketersediaan sumber daya manusia yang sangat terampil di bidang IT dan engineering, technology chips yang mutakhir, dan venture capitalist (pemodal) yang berani mendanai proyek startup yang berisiko tinggi.
ADVERTISEMENT
Bila merujuk pada pertimbangan tersebut, Bangalore dan Tel Aviv jadi opsi yang dipilih. Kedua 'Silicon Valley' di luar AS tersebut juga telah menjadi pusat pengembangan teknologi bagi raksasa perusahaan otomotif, elektronik hingga teknologi dunia.
Arcandra Sebut RI Tak Masuk Radar Elon Musk untuk Pengembangan Mobil Listrik (102268)
Elon Musk bos Tesla. Foto: dok. Businessinsider
Mercedes-Benz, Great Wall Motors, General Motors, Continental, Mahindra & Mahindra, Bosch, Delphi and Volvo sudah lebih dulu berada di Kota Bangalore. Sementara itu, Tel Aviv menjadi pusat pengembangan teknologi bagi perusahaan seperti Intel, IBM, Google, Facebook, Hewlett-Packard, Philips, Cisco Systems, Oracle Corporation, SAP, BMC Software, Microsoft, dan Motorola.
Ketertarikan perusahaan dunia di Bangalore dan Tel Aviv tidak terwujud dalam waktu singkat. Arcandra menyebut Tel Aviv dan Bangalore memulainya dengan keunggulan di bidang sumber daya manusia. Teknologi IT yang berkembang dan masuknya para pemodal adalah hasil dari kerja keras para talenta yang berkualitas tinggi.
ADVERTISEMENT
"Mereka bisa membuktikan bahwa hasil kerja mereka tidak kalah dari talenta yang berasal dari AS. Kepercayaan ini tidak dibangun dalam hitungan bulan tapi puluhan tahun," tambahnya.
Meski kedua negara memiliki keunggulan di bidang ekosistem SDM dan teknologi, namun Tesla akhirnya memutuskan India sebagai lokasi pengembangan teknologinya.
Arcandra menilai, Elon Musk memiliki beberapa pertimbangan dengan mendahulukan Bangalore sebagai pusat pengembangan teknologi di luar AS. Di Bangalore, Tesla tidak saja mendapatkan ekosistem IT terbaik, tapi juga bisa mendapatkan akses pasar yang sangat besar.
"India adalah negara dengan jumlah penjualan mobil ke-empat terbesar di dunia setelah China, AS dan Jepang," tuturnya.
Pertimbangan kedua adalah soal biaya tenaga kerja yang lebih murah dibandingkan dengan Tel Aviv. Biaya hidup di Tel Aviv sekitar 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Bangalore. Rata-rata gaji pegawai juga 3 kali lebih tinggi di Tel Aviv. Biaya hidup di Tel Aviv lebih tinggi dari London, Sydney, dan Berlin.
ADVERTISEMENT
"Biaya hidup di Bangalore bahkan lebih rendah dari Jakarta," tambahnya.
Arcandra menambahkan, keputusan investasi Tesla yang memilih India tentu bisa menjadi pembelajaran bagi Indonesia. Bahwa seluruh negara kini terus berlomba memberikan daya tarik kepada investor. Indonesia memiliki natural resources yang luar biasa dan potensi human resources yang tidak kalah di dunia.
"Tapi memastikan bahwa kedua aset strategis itu bisa membentuk sebuah ekosistem yang memberikan daya tarik bagi investor, tentu menjadi tantangan yang tidak mudah dibangun dalam sekejap. Insyaa Allah," tutupnya.