AS-Iran Beri Sinyal Capai Kesepakatan Buka Selat Hormuz 60 Hari
·waktu baca 2 menit

Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan tengah menyiapkan kesepakatan terkait perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Dalam masa itu, kesepakatan juga mencakup pembukaan Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Bloomberg, seorang pejabat AS menyebut dengan kesepakatan itu Iran dapat menjual minyak secara bebas.
“Selama periode 60 hari tersebut, Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya dan Iran akan setuju untuk membersihkan ranjau yang telah mereka pasang di selat tersebut agar kapal dapat melewatinya dengan bebas,” tulis laporan tersebut, Minggu (24/5).
“Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengeluarkan beberapa pengecualian sanksi untuk memungkinkan Iran menjual minyak secara bebas,” lanjut laporan itu.
Pejabat AS tersebut juga mengakui bahwa kesepakatan itu memang akan menjadi keuntungan bagi perekonomian Iran. Namun demikian, kesepakatan tersebut bisa membuat pasar minyak global membaik secara signifikan.
Ia juga menjelaskan bahwa semakin cepat Iran membersihkan ranjau dan mengizinkan pengiriman barang kembali beroperasi, semakin cepat blokade oleh AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan dicabut.
Meski demikian, rincian kesepakatan tersebut belum dikonfirmasi oleh pihak Iran. Saat ini, Presiden AS, Donald Trump maupun para mediator telah mengindikasikan bahwa kesepakatan tersebut akan diumumkan pada hari Minggu (24/5) waktu AS. Walau demikian, indikasi tersebut belum final dan masih bisa gagal.
Pejabat AS tersebut juga menyebut bahwa Iran menginginkan dana mereka yang dibekukan segera dicairkan dan sanksi dicabut secara permanen. Namun, menurut pejabat tersebut pihak AS mengatakan hal itu baru akan dilakukan AS jika Iran terlebih dulu memberikan langkah atau konsesi yang nyata.
Adapun Axios menyebut kesepakatan tersebut memang akan menghindari eskalasi perang dan mengurangi tekanan pada pasokan minyak global. Namun, masih belum jelas apakah kesepakatan ini akan menghasilkan perjanjian perdamaian jangka panjang yang juga membahas tuntutan nuklir Trump.
