AS-Iran Damai, Purbaya Sebut Beban Subsidi Berpotensi Menyusut
·waktu baca 2 menit

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah.
Salah satu dampak positif yang bisa dirasakan adalah berkurangnya kebutuhan anggaran subsidi energi yang sebelumnya disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia.
Purbaya mengatakan pemerintah selama ini telah mencadangkan sebagian anggaran untuk mengantisipasi risiko kenaikan subsidi akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.
"Kan, kemarin sebagian anggaran sudah kita sisihkan untuk subsidi," kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (16/6).
Menurut dia, apabila konflik benar-benar mereda dan harga energi global kembali stabil, tekanan terhadap anggaran subsidi bisa berkurang sehingga pemerintah memiliki ruang untuk mendanai program prioritas lainnya.
"Sehingga akan jauh berkurang ada ruang untuk memberi pembiayaan program-program lain yang dianggap penting oleh presiden, jadi kita liat seperti apa dan baru kita adjust," ujarnya.
AS-Iran telah mencapai kesepakatan sementara untuk menghentikan perang yang memicu kekhawatiran pasar global. Kedua negara juga sepakat membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan utama perdagangan minyak dunia.
Dikutip dari Bloomberg, para pejabat dari kedua negara akan bertemu di Swiss pada 19 Juni untuk secara resmi menandatangani perjanjian tersebut. Ini menjadi keputusan yang menunjukkan beberapa aspek kesepakatan mungkin masih belum terselesaikan.
Belum ada teks yang dirilis oleh kedua pihak, sehingga poin-poin yang paling menjadi kendala akan dibahas pada tahap pembicaraan selanjutnya. Namun, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu lalu berjanji kesepakatan akan tercapai pada Minggu, hari ulang tahunnya yang ke-80, dan dia telah berupaya keras agar hal itu segera dilaksanakan.
“Kesepakatan hebat ini akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh wilayah,” kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial.
