Kumparan Logo

AS Kehilangan 23 Ribu Lapangan Kerja, tapi Pengangguran Turun ke 4,1%

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pekerja di Amerika Serikat. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pekerja di Amerika Serikat. Foto: Shutterstock

Perusahaan di Amerika Serikat (AS) secara tak terduga mengurangi jumlah tenaga kerja pada Juli, sementara data perekrutan untuk dua bulan sebelumnya direvisi lebih rendah. Hal ini mengindikasikan pasar tenaga kerja AS lebih lemah dari perkiraan sebelumnya, setelah sempat menunjukkan kekuatan yang mengejutkan pada awal tahun.

Data Bureau of Labor Statistics (BLS) yang dirilis Jumat (7/8) menunjukkan nonfarm payrolls berkurang 23.000 pekerjaan pada Juli, setelah angka Mei dan Juni direvisi turun secara gabungan sebanyak 103.000 pekerjaan. Di sisi lain, tingkat pengangguran turun menjadi 4,1 persen seiring berlanjutnya penurunan tingkat partisipasi angkatan kerja, sementara pertumbuhan upah juga melambat.

Laporan itu menunjukkan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum di tengah kenaikan harga dan ketidakpastian akibat perang Iran, meski data terbaru sebelumnya memperlihatkan belanja konsumen dan investasi bisnis masih kuat. Data ini juga berpotensi mendorong Federal Reserve (The Fed) menunda kenaikan suku bunga karena para pejabat bank sentral harus menyeimbangkan risiko inflasi dengan kondisi pasar tenaga kerja.

Saham-saham AS dibuka menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah turun setelah investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Meski demikian, laporan inflasi yang akan datang, termasuk data Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli yang dijadwalkan rilis pekan depan, diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed bulan depan.

“Laporan pasar tenaga kerja yang lemah seharusnya menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan, tetapi laporan inflasi akan menjadi fokus utama para pejabat The Fed,” kata Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, dalam sebuah catatan, dikutip dari Bloomberg, dikutip Sabtu (8/8).

“Jika inflasi tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, maka peluang kenaikan suku bunga akan meningkat,” tambah Bostjancic.

Penurunan jumlah pekerjaan terutama dipicu oleh berkurangnya tenaga kerja di sektor pemerintahan, rekreasi dan perhotelan, serta perdagangan ritel. Sementara itu, jumlah pekerja di sektor swasta bertambah 30.000 orang untuk bulan kedua berturut-turut, dipimpin oleh sektor layanan kesehatan dan bantuan sosial.

Kemudian pemerintah daerah juga memangkas hampir 60.000 pekerjaan, hampir seluruhnya berasal dari sektor pendidikan. Angka itu dinilai cukup fluktuatif pada musim panas karena banyak guru sementara keluar dari daftar penggajian sebelum kembali bekerja saat tahun ajaran baru dimulai. Jumlah pegawai pemerintah federal juga mengalami penurunan.

Ilustrasi pekerja di Amerika Serikat. Foto: Shutterstock

Lapangan kerja di sektor rekreasi dan perhotelan turun ke level terendah dalam hampir satu tahun setelah restoran dan bar mengurangi jumlah karyawan. Hal ini mengindikasikan Piala Dunia FIFA yang berakhir pada 19 Juli tidak mampu memberikan dorongan terhadap penciptaan lapangan kerja sebagaimana diperkirakan banyak analis.

Laporan ini dirilis di tengah pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh sejumlah perusahaan besar sepanjang bulan lalu, termasuk Microsoft Corp, Uber Technologies Inc, dan Visa Inc. Jumlah pekerja di sektor aktivitas keuangan,yang banyak mempekerjakan pekerja kantoran dan dianggap paling rentan terhadap adopsi kecerdasan buatan (AI), juga turun ke level terendah dalam empat tahun.

Sebaliknya, lapangan kerja di sektor manufaktur dan konstruksi terus meningkat. Banyak ekonom menilai pembangunan pusat data menjadi salah satu pendorong permintaan tenaga kerja konstruksi sepanjang 2026, meskipun pembangunan perumahan masih tertahan akibat tingginya suku bunga.

Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja, yakni proporsi penduduk yang bekerja atau aktif mencari pekerjaan, turun menjadi 61,4 persen. Di luar periode pandemi, angka tersebut merupakan yang terendah sejak dekade 1970-an. Untuk kelompok usia produktif 25–54 tahun, tingkat partisipasi memang sedikit meningkat, tetapi masih berada di kisaran level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Kenaikan upah juga berada di bawah perkiraan. Rata-rata upah per jam meningkat 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari lima tahun. Para ekonom mencermati perkembangan dinamika penawaran dan permintaan tenaga kerja terhadap pertumbuhan upah.

Daya beli masyarakat juga diperkirakan menjadi isu penting menjelang pemilu sela pada November, terutama karena perang Iran semakin mendorong kenaikan biaya hidup. Meski sentimen konsumen pulih pada bulan lalu, pandangan masyarakat terhadap kondisi keuangan mereka saat ini masih berada di bawah level beberapa tahun terakhir.

“Pertumbuhan lapangan kerja Juli tergolong lemah. Pelemahan payrolls dan meningkatnya PHK kemungkinan merupakan sinyal yang lebih kuat dibandingkan turunnya tingkat pengangguran, yang justru disebabkan oleh menyusutnya jumlah angkatan kerja. Dikombinasikan dengan proyeksi kami bahwa data CPI pekan depan akan lemah, kami memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September,” tulis ekonom Bloomberg, Anna Wong, Andrew Sacher, dan Eliza Winger.

Meski demikian, sejumlah data lain yang dirilis pekan ini memberikan gambaran yang lebih positif. ADP Research melaporkan pertumbuhan upah pekerja sektor swasta yang berpindah pekerjaan meningkat pada Juli ke level tertinggi dalam hampir satu tahun. Sementara itu, Bank of America Institute mencatat kenaikan upah dan pertumbuhan lapangan kerja di kalangan rumah tangga berpendapatan rendah bulan lalu. Indikator rencana perekrutan usaha kecil yang dirilis National Federation of Independent Business (NFIB) juga naik ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.

“Menurut saya, data ini tidak terlihat meyakinkan. Angka-angkanya tidak sejalan dengan kondisi pasar tenaga kerja yang kami lihat secara lebih luas. Jika pasar tenaga kerja memang melemah sedalam yang ditunjukkan laporan Juni dan Juli, kita pasti sudah mendengarnya dari para pejabat The Fed maupun dari kondisi perekonomian secara umum, dan itu tidak terjadi,” ujar Kepala Ekonom Santander US Capital Markets LLC, Stephen Stanley.