Kumparan Logo

AS Kehilangan Peringkat Kredit Utang Tertinggi Setelah Moody’s Turunkan Rating

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah papan nama lembaga pemeringkat Moody's terpampang di kantor pusat perusahaan tersebut di New York. Foto: Emmanuel Dunand/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah papan nama lembaga pemeringkat Moody's terpampang di kantor pusat perusahaan tersebut di New York. Foto: Emmanuel Dunand/AFP

Amerika Serikat resmi kehilangan peringkat kredit tertinggi terakhirnya setelah lembaga pemeringkat Moody’s menurunkan peringkat utangnya.

Lembaga pemeringkat Moody's adalah sebuah institusi internasional yang memberikan penilaian atau rating kredit terhadap kemampuan suatu negara atau entitas dalam memenuhi kewajiban utangnya.

Keputusan Moody's mencerminkan kekhawatiran yang makin besar terhadap utang dan defisit fiskal AS yang terus membengkak, yang dinilai dapat merusak posisi Amerika sebagai tujuan utama investasi global serta meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.

Pada Jumat waktu setempat, Moody’s memangkas peringkat utang AS dari Aaa menjadi Aa1, menyusul langkah serupa yang lebih dulu diambil oleh Fitch Ratings dan S&P Global Ratings.

Ini menandai berakhirnya status triple-A yang selama ini disandang oleh ekonomi terbesar dunia. Penurunan satu tingkat ini terjadi lebih dari setahun setelah Moody’s memberi prospek negatif terhadap peringkat AS. Kini, outlook peringkat kembali stabil.

“Meski kami mengakui kekuatan ekonomi dan keuangan AS yang signifikan, hal tersebut tidak lagi cukup untuk menutupi memburuknya indikator fiskal,” tulis Moody’s dalam pernyataan resminya, dikutip Bloomberg, Minggu (18/5).

Moody’s menyoroti bahwa pemerintahan AS, dari satu rezim ke rezim lain, bersama dengan Kongres, terus memperbesar defisit anggaran tanpa menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pada hari yang sama, parlemen di Washington masih membahas rancangan undang-undang pajak dan belanja besar-besaran yang diperkirakan akan menambah utang triliunan dolar dalam beberapa tahun ke depan.

Gedung Putih menilai keputusan Moody’s ini sarat muatan politik. Juru bicara Presiden Donald Trump, Steven Cheung, bahkan menyindir ekonom dari Moody’s Analytics, Mark Zandi, lewat unggahan di X (sebelumnya Twitter), dengan menyebut Zandi sebagai pengkritik lama kebijakan Trump.

“Tak ada yang menganggap serius analisisnya. Ia sudah berkali-kali terbukti salah,” ujar Cheung.

Zandi belum memberikan komentar saat dimintai tanggapan Jumat malam.

instagram embed