AS Percepat Penjualan Senjata ke Israel hingga UEA, Nilainya Nyaris Rp 156 T
ยทwaktu baca 2 menit

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah menyetujui percepatan penjualan senjata ke Israel, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab dengan melewati proses peninjauan standar oleh Kongres.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pengiriman rudal pertahanan udara dan sistem pemandu laser ke kawasan Timur Tengah, di tengah kondisi gencatan senjata dalam perang Iran yang semakin rapuh.
Menurut Kementerian Luar Negeri AS, nilai keseluruhan kesepakatan tersebut mencapai hampir USD 9 miliar atau sekitar Rp 156 triliun (kurs Rp 17.336 per dolar AS pukul 15.50 WIB), seperti dikutip dari Bloomberg pada Sabtu (2/5).
"Kementerian tersebut mengizinkan penjualan hingga 10.000 unit Advanced Precision Kill Weapon System-II All Up Rounds kepada Israel, dengan nilai sekitar USD 992,4 juta dan diproduksi oleh BAE Systems," tulis laporan Bloomberg tersebut.
Kuwait juga disetujui untuk membeli Integrated Battle Command Systems beserta perlengkapannya dengan nilai hingga USD 2,5 miliar. Perusahaan utama yang terlibat dalam potensi penjualan ini adalah Northrop Grumman, RTX Corporation, dan Lockheed Martin.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri turut menyetujui penjualan ke Qatar berupa hingga 200 rudal Patriot Advanced Capability-2 (PAC-2) Guidance Enhanced Missile-Tactical (GEM-T) dan 300 rudal PAC-3 Missile Segment Enhancement beserta perlengkapannya dengan nilai mencapai USD 4,01 miliar. Lockheed Martin dan RTX menjadi kontraktor utama dalam transaksi ini.
Dalam kesepakatan terpisah, Qatar juga disetujui untuk membeli 10.000 unit APKWS-II all-up-rounds atau varian tunggal beserta perlengkapannya, dengan nilai maksimum sekitar USD 992,4 juta. Sementara itu, Uni Emirat Arab disetujui untuk membeli APKWS dan perlengkapan terkait senilai hingga USD 147,6 juta.
Dalam pernyataan resminya, Rubio menyatakan dalam seluruh transaksi tersebut terdapat kondisi darurat yang memerlukan penjualan segera, serta menilai langkah percepatan ini sejalan dengan kepentingan keamanan nasional AS.
Biasanya, pembelian senjata seperti ini harus melalui periode peninjauan oleh Kongres, dan rincian jumlah serta harga akan difinalisasi melalui negosiasi antara pembeli dan penjual. Sebelumnya, Rubio juga telah menyetujui percepatan penjualan senjata kepada sekutu AS di Timur Tengah pada Maret lalu.
Sejak AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari, sejumlah negara di kawasan tersebut menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran.
Penutupan Selat Hormuz sejak awal konflik turut memicu krisis energi global, sementara negosiasi antara Washington dan Teheran masih mengalami kebuntuan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran mengenai serangan udara dapat kembali terjadi dalam waktu dekat.
