Asa Pekerja Bangunan di Tengah Pandemi, Sektor Perumahan Bantu Pemulihan Ekonomi

Matahari tepat berada di atas kepala, teriknya membuat mata tak bisa terbuka dengan lebar. Butiran keringat terus mengucur dari tubuh Bodin (47), namun hal itu tak membuatnya istirahat dari aktivitas menyusun batu-bata.
Tiga pekan sudah dia berada di kawasan Sedayu, Bantul, untuk mengerjakan proyek renovasi rumah. Meski cuaca di wilayah ini tak menentu, terkadang matahari begitu terik lalu seketika ribuan tetes air jatuh dari langit, Ia tak peduli.
Berasal dari Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Bodin merupakan seorang pekerja bangunan. Tumpukan material pasir dan semen adalah sahabat yang menemaninya sejak 30 tahun silam.
Dia adalah suami dari seorang perempuan bernama Cahyati dan Bapak dari 2 anak. Meski selama ini kehidupannya terbilang sederhana, menurut Bodin, memiliki Istri yang setia dan anak yang penurut adalah harta yang lebih mewah dari sekadar rupiah.
Oleh karenanya, selama ini Bodin tak pernah ‘ngoyo’ dalam bekerja. Asal cukup untuk kebutuhan keluarganya dan bisa untuk menabung, Ia memberi jeda dalam menerima tawaran merenovasi atau membangun rumah.
Sebab, bagi Bodin, meluangkan waktu untuk keluarga merupakan hal yang tak boleh dipinggirkan. Menengok rata-rata tawaran pembangunan rumah yang diterimanya jauh dari tempat tinggal.
Namun semenjak COVID-19 merebak di tanah air, kondisinya berbeda. Adik bungsu Cahyati yang semula menanggung biaya hidup mertuanya, di-PHK. Alhasil, tanggungjawab itu beralih ke Bodin.
“Dulu adik ipar saya kerja jadi manajer restoran di Jakarta. Enggak selang lama corona datang, waktu PSBB itu di-PHK,” ucap Bodin.
Jika dilogika, menurut dia, upahnya yang pas-pasan hanya cukup untuk membiayai keluarga dan sedikit menabung. Sebab mertuanya yang telah berusia senja membutuhkan biaya lebih untuk berobat. Terlebih saat pandemi, mayoritas orang kesulitan mencari uang.
Akan tetapi, berdasar keyakinan Tuhan tak memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya, Bodin mampu melewati ini. Dia berpendapat, pembangunan perumahan merupakan sektor yang tak begitu terdampak pandemi.
“Masih ramai kok. Awal corona itu saya dapat pekerjaan di Temanggung, Jogja, terus ke Jakarta, dan sekarang kesini. Semoga masih tetap ramai (proyek perumahan) biar yang di rumah bisa makan,” harapnya.
Memang, sektor perumahan di tengah pandemi memiliki andil yang cukup besar bagi pemulihan ekonomi. Sebab pembangunan perumahan tak hanya berdampak positif ke pengembang properti maupun pekerja bangunan, melainkan juga menggerakkan banyak industri lain.
“Dalam hal membuka lapangan kerja, sektor perumahan memberikan dampak yang besar. Dengan luas lahan 1 hektar untuk pembangunan perumahan, jika sekitar 60 persen untuk pembangunan rumah yakni 6.000 m2 dengan luas tanah masing-masing rumah sebesar 100 m2, maka akan ada 60 rumah,” kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono.
“Dalam membangun satu rumah saja bisa menggerakkan 10 orang pekerja, jadi dengan luasan 1 ha bisa membuka lapangan kerja minimal 600 orang. Jadi betapa pentingnya menggerakkan sektor properti ini,” imbuhnya.
Senada, eks Direktur Utama BTN yang kini menjabat Wakil Menteri BUMN, Pahala N Mansury menjelaskan bahwa sektor perumahan mampu bertahan di tengah pandemi. Bahkan, sektor ini bertumbuh meski melambat.
Sebab, Pahala memandang, konsumen properti di Indonesia tergolong luas. Jika masyarakat terdampak pandemi menahan konsumsi untuk membeli rumah, masih ada pangsa pasar lain yang bisa disasar.
“Sektor perumahan sekarang ini yang beli orang yang pendapatannya tidak berpengaruh dengan adanya kondisi ini,” jelasnya.
Industri Lain Turut Terkerek Naik
Pembangunan perumahan ternyata tak hanya berdampak positif kepada pengembang properti maupun pekerja bangunan, melainkan juga menggerakkan banyak industri lain. Di antaranya adalah industri semen, besi, cat, batu bata, paku, hingga furnitur.
Hal itu dibeberkan oleh Adjunct Associate Professor SBM ITB Aries Firman. Menurutnya, sektor perumahan merupakan salah satu industri yang memiliki keterkaitan dengan sektor lain. Tentunya hal itu membuat industri lain turut bergairah.
“Akan ada multiplier effect yang menjadi akselerator sistem perekonomian daerah dan nasional,” kata dia.
Bahkan, menurut Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, sektor perumahan berdampak ke sekitar 170 industri lain. Maka dari itu, Pemerintah menggelontorkan berbagai bantuan untuk mendorong sektor perumahan agar bertumbuh lebih cepat.
“Sektor perumahan perlu melakukan terobosan dan instrumen baru karena sektor ini punya multiplier effect ke 170 industri lainnya,” beber Suahasil.
Pada tahun lalu, Pemerintah menggelontorkan bantuan melalui KPR Bersubsidi atau FLPP sebesar Rp 11,23 triliun untuk 109 ribu unit, Subsidi Selisih Bunga KPR sebesar Rp 118,4 miliar untuk 90 ribu unit, Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) KPR sebanyak Rp 526,37 miliar untuk 130 ribu unit, serta KPR untuk pekerja informal atau BP2BT senilai Rp 53,86 miliar untuk 1.357 unit.
“Kami harapkan dengan upaya tersebut dapat meningkatkan permintaan dari sektor lain sehingga mendorong pemulihan ekonomi,” harapnya.
Akses KPR Makin Dipermudah
Untuk mempermudah masyarakat mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di tengah pandemi COVID-19, Bank BTN meluncurkan program yang dinamakan KPR From Home pada April 2020 lalu, atau sesaat setelah virus corona merebak di tanah air.
Dalam program ini, calon debitur atau konsumen dapat mencari hingga mengajukan berkas aplikasi Kredit Kepemilikan Rumah maupun Apartemen (KPR/KPA) secara online melalui website www.btnproperti.co.id atau Mobile Apps BTN Properti yang dapat diunduh via Playstore dan Appstore
Pada layanan online itu pula, masyarakat bisa mengakses ratusan proyek perumahan yang tersedia dari 42 pengembang, antara lain PP Properti, Adhi Comuter Properti, Duta Putra Group, ISPI Group, Kalindo Land, hingga Perumnas.
“Melalui KPR From Home ini banyak kemudahan yang kami berikan kepada nasabah. Seluruh proses kredit bisa dilakukan secara online seperti pengajuan berkas melalui website BTN atau Mobile Aplikasi BTN Properti serta pembayaran booking fee. Bahkan, nasabah juga bisa tracking posisi berkas pengajuan secara online,” kata Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division (NSLD) BTN, Suryanti Agustinar.
Pun dalam KPR From Home, BTN juga memberikan promo suku bunga mulai dari 6 persen selama 1 tahun. Lalu dalam momen tertentu seperti pameran properti yang digelar secara virtual, BTN menawarkan bunga KPR mulai dari 4,4 persen fixed selama 1 tahun.
Upaya BTN untuk menggairahkan sektor perumahan pun berbuah manis. Bank pelat merah ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,6 triliun, atau melonjak drastis 665,71 persen dibanding pencapaian di 2019 yang hanya Rp 209 miliar.
“Di tengah tekanan pandemi, Bank BTN sukses meraih laba bersih senilai Rp 1,60 triliun pada kuartal IV 2020, melambung tinggi dari posisi Rp 209 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Plt Direktur Utama Bank BTN Nixon LP Napitupulu
Nixon pun menjelaskan, sektor perumahan menjadi penopang laba BTN yang naik tajam. Sebab sektor tersebut justru bergerak positif di tengah koreksi pertumbuhan ekonomi akibat pandemi COVID-19.
Nixon merinci, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi tumbuh sebesar 8,63 persen menjadi Rp 120,72 triliun per kuartal IV 2020. Sektor ini menjadi penopang utama pertumbuhan kredit di BTN. Sehingga dengan pertumbuhan KPR Subsidi yang positif tersebut, kredit perumahan BTN secara total naik sebesar 2,29 persen menjadi Rp 234,78 triliun.
“Ini akan berdampak sangat positif dalam mendorong ekonomi nasional dan kami optimistis BTN akan dapat memainkan perannya dengan baik sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Nixon.
Ikhtiar BTN, Pemerintah hingga swasta untuk membuat sektor perumahan terus bergeliat, tentu tak berhenti sampai di sini. Semoga segala upaya itu dapat menjaga api harapan Bodin, pekerja bangunan lain maupun sektor terkait lain, terus menyala.
