Kumparan Logo

Asosiasi Proyeksi Utilisasi Produksi Keramik Capai 73 Persen di Akhir 2025

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Impor Keramik. Foto: Yoesoep Adji/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Impor Keramik. Foto: Yoesoep Adji/Shutterstock

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mengatakan industri keramik nasional menunjukkan pemulihan pada tahun 2025. Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, memperkirakan tingkat utilisasi produksi keramik nasional dapat mencapai sekitar 73 persen hingga akhir tahun, naik dibanding capaian tahun 2024 yang berada di level 66 persen.

Edy menjelaskan, peningkatan kinerja industri sepanjang tahun ini sesuai dengan pola permintaan yang biasanya meningkat pada paruh kedua tahun.

“Kinerja utilisasi produksi nasional Januari sampai Oktober 2025 berada di sekitar 72,5 persen, sedikit meningkat dibandingkan semester I 2025 yang berada di 71 persen. Angka perbaikan tingkat utilisasi ini sesuai dengan prediksi Asaki di mana peak season permintaan keramik biasanya berada di semester kedua setiap tahunnya,” ujar Edy dalam keterangan tertulis, Selasa (11/11).

Asaki mencatat volume produksi keramik pada Januari hingga Oktober 2025 diperkirakan mencapai 392,7 juta meter persegi, tumbuh sekitar 16 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong program PPN Ditanggung Pemerintah, ketersediaan pembiayaan KUR untuk kontraktor dan pengusaha bahan bangunan, penyaluran pembiayaan FLPP untuk 350.000 unit perumahan, serta meningkatnya substitusi produk impor dari China.

Ilustrasi Impor Keramik. Foto: Yoesoep Adji/Shutterstock

Namun, Edy menilai tingkat utilisasi dapat mencapai 80 sampai 85 persen apabila didukung kelancaran suplai gas industri dan percepatan realisasi program pembangunan 3 juta rumah sebagaimana dicanangkan pemerintah.

Asaki saat ini juga sedang menghimpun data terkait lonjakan impor keramik dari sejumlah negara, yaitu India sebesar 120 persen, Vietnam 130 persen, dan Malaysia 170 persen. Peningkatan signifikan ini diduga merupakan indikasi awal praktik unfair trade dan transshipment produk asal China yang bertujuan menghindari bea masuk anti-dumping dan safeguard.

Sementara itu, kinerja ekspor keramik nasional pada Januari hingga Juli 2025 turut menunjukkan pertumbuhan sebesar 17 persen, dengan ekspor ke Amerika Serikat meningkat hingga 170 persen, ke Malaysia 50 persen, dan Filipina 32 persen. Namun industri masih menghadapi tantangan berupa gangguan pasokan bahan baku clay dan feldspar, terutama dari Jawa Barat, setelah adanya pencabutan sejumlah izin pertambangan.

Dengan memperhitungkan tren permintaan dan kondisi terkini, Asaki memproyeksikan total produksi keramik nasional hingga akhir 2025 dapat mencapai 474,5 juta meter persegi, atau tumbuh sekitar 15 persen dibanding total produksi 2024 sebesar 412 juta meter persegi. Untuk tahun 2026, Asaki menargetkan tingkat utilisasi kapasitas nasional dapat meningkat menjadi 78 sampai 80 persen, seiring harapan perbaikan suplai energi dan kebijakan proteksi industri yang lebih kuat.