Kumparan Logo

Astra Agro Lestari Raup Laba Rp 1,07 T, Presdir Ungkap Penyumbangnya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Djap Tet Fa. Foto: Muhammad Darisman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Djap Tet Fa. Foto: Muhammad Darisman/kumparan

Presiden Direktur Astra Agro Lestari (AALI) Djap Tet Fa buka suara terkait kenaikan laba perusahaan per triwulan ketiga 2025.

Berdasarkan laporan keuangannya, AALI memperoleh laba bersih Rp 1,07 triliun. Angka ini tercatat naik 33,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (yoy) yang tercatat sebesar Rp 801,2 miliar.

Pendapatan bersih perusahaan naik 35,8 persen menjadi Rp 22,11 triliun dari sebelumnya Rp 16,28 triliun.

Menurut Djap Tet Fa, kenaikan kinerja keuangan itu disumbang oleh peningkatan produksi dan kenaikan harga crude palm oil (CPO).

"Penyebab utamanya memang ada dua, satu memang ada peningkatan produksi dibanding tahun lalu. Total produksi kita naik sekitar 8 persen dan juga ada kenaikan harga," ujarnya dalam acara Talk to The CEO di Pangkalan Bun, Jumat malam (30/10).

Kenaikan harga, lanjutnya, menjadi faktor yang tidak bisa dikontrol perusahaan. Tahun ini, terjadi peningkatan karena naiknya permintaan biodiesel.

"Tapi bagaimana 2026 selanjutnya, ya kita enggak tahu juga. Jadi agak susah kalau ditanya bagaimana proyeksi," sambungnya.

Atas dasar itu, AALI belum bisa mengungkapkan target untuk sepanjang tahun ini dan tahun depan. Ada 3 faktor, menurut Tet Fa, yang perlu diperhatikan ke depan.

Tandan buah segar kelapa sawit di lahan anak usaha PT Astra Agro Lestari. dok. Muhammad Darisman/kumparan

Pertama bagaimana permintaan dan penawaran di pasar. Faktor pertama ini berpengaruh terhadap naik turunnya harga. Sementara yang kedua adalah kompetisi dengan minyak dunia lainnya.

"Apa itu kompetisi ya tadi, soybean, sunflower, dan minyak dunia lainnya. Kalau misalnya kompetisi misalnya ini tiba-tiba harga soybean menjadi mahal sekali otomatis orang akan lari kepada yang murah kan. Negara seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, mereka adalah price sensitive," jelasnya.

Terakhir adalah kondisi geopolitik dan perang. Ia mencontohkan dampak dari perang Rusia-Ukraina sebelumnya terhadap harga minyak.

"Itu bisa akan membuat sentimen itu bisa bergerak. Jadi secara fundamental saya kira tiga hal itu," tutur Djap Tet Fa.