Astra International Raup Laba Rp 11,4 T di Semester I 2020, Naik 16 Persen

Kinerja PT Astra International Tbk selama semester I 2020 juga terpengaruh adanya pandemi virus corona. Astra masih berupaya meningkatkan kinerja perusahaan dengan tetap memperhatikan penanganan COVID-19.
Presiden Direktur Astra Djony Bunarto Tjondro mengungkapkan, pendapatan bersih konsolidasian Grup Astra pada semester I 2020 sebesar Rp 89,8 triliun atau menurun 23 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bersih meningkat 16 persen.
“Laba bersih Grup Astra sebesar Rp 11,4 triliun, meningkat 16 persen dibandingkan dengan semester I tahun 2019, termasuk keuntungan dari penjualan saham di Bank Permata,” kata Djony melalui keterangan tertulisnya yang dikutip kumparan, Kamis (30/7).
Djony menjelaskan, tanpa memasukkan keuntungan penjualan tersebut, laba bersih grup menurun 44 persen menjadi Rp 5,5 triliun, terutama karena penurunan kinerja divisi otomotif, alat berat dan pertambangan, dan jasa keuangan yang disebabkan dampak COVID-19. Sementara itu nilai aset bersih per saham pada 30 Juni 2020 sebesar Rp 3.773 atau meningkat 3 persen dari nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2019.
“Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan Grup, mencapai Rp 1,4 triliun pada 30 Juni 2020, dibandingkan utang bersih sebesar Rp 22,2 triliun pada akhir tahun 2019, setelah diterimanya hasil dari penjualan saham di Bank Permata pada bulan Mei,” ujar Djony.
“Utang bersih anak perusahaan jasa keuangan Grup Astra meningkat dari Rp45,8 triliun pada akhir tahun 2019 menjadi Rp46,4 triliun pada 30 Juni 2020,” tambahnya.
Djony menjelaskan di setiap bisnis Grup Astra, tingkat utang dan posisi likuiditas dipantau dengan cermat dan langkah-langkah untuk mengurangi risiko operasional dan keuangan dilakukan. Berbagai tindakan juga diambil untuk mengelola biaya dan menjaga tingkat kas, termasuk mengurangi belanja modal dan mengelola modal kerja.
Kegiatan Bisnis
Djony menjelaskan pada kuartal kedua 2020, operasi Grup Astra mengalami gangguan yang signifikan karena pandemi COVID-19 dan tindakan pengendalian terkait pandemi. Gangguan operasi tersebut termasuk penutupan sementara kantor perusahaan, fasilitas manufaktur dan dealer otomotif.
Berikut ini laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham PT Astra International Tbk dari tiap-tiap segmen bisnis:
Otomotif
Laba bersih dari divisi otomotif Grup menurun 79 persen menjadi Rp 716 miliar, terutama karena penurunan volume penjualan yang signifikan pada kuartal kedua. Berikut adalah ikhtisarnya:
Penjualan mobil nasional menurun 46 persen menjadi 261.000 unit pada semester pertama tahun 2020 (sumber: Gaikindo). Penjualan mobil Astra menurun 45 persen menjadi 139.500 unit, dengan pangsa pasar stabil sebesar 53 persen. Pada kuartal kedua tahun 2020, penjualan mobil Astra menurun 92 persen dibandingkan dengan kuartal pertama. 6 model baru dan 10 model revamped telah diluncurkan pada semester pertama tahun 2020.
Penjualan sepeda motor secara nasional menurun 42 persen menjadi 1,9 juta unit pada semester pertama tahun 2020 (sumber: Kementerian Perindustrian). Penjualan sepeda motor Honda Astra menurun 40 persen menjadi 1,5 juta unit, dengan pangsa pasar meningkat dari 75 persen menjadi 77 persen. Pada kuartal kedua tahun 2020, penjualan sepeda motor Astra menurun 80 persen dibandingkan dengan kuartal pertama. 3 model baru dan 6 model revamped telah diluncurkan pada semester pertama tahun 2020.
Bisnis komponen otomotif Grup dengan kepemilikan 80 persen, PT Astra Otoparts Tbk (AOP), mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 296 miliar dibandingkan laba bersih sebesar Rp 246 miliar pada semester pertama tahun lalu, terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari segmen pabrikan (OEM/original equipment manufacturer) dan pasar suku cadang pengganti (REM/replacement market).
Jasa Keuangan
Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup menurun 25 persen menjadi Rp 2,1 triliun selama semester pertama 2020, terutama disebabkan oleh peningkatan provisi untuk menutupi peningkatan kerugian kredit bermasalah pada bisnis pembiayaan konsumen dan alat berat. Berikut adalah ikhtisarnya:
Bisnis pembiayaan konsumen Grup mengalami penurunan nilai pembiayaan sebesar 16 persen menjadi Rp 35,3 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan yang fokus pada pembiayaan mobil Grup menurun 24 persen menjadi Rp 545 miliar, sementara kontribusi laba bersih dari PT Federal International Finance (FIF) yang fokus pada pembiayaan sepeda motor menurun 25 persen menjadi Rp 918 miliar. Keduanya disebabkan oleh provisi kerugian pinjaman yang lebih tinggi, karena peningkatan kredit bermasalah.
Total pembiayaan yang disalurkan oleh unit usaha pembiayaan alat berat Grup turun sebesar 14 persen menjadi Rp 1,8 triliun. Kontribusi laba bersih dari segmen ini menurun 30 persen menjadi Rp 35 miliar.
PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra), perusahaan asuransi umum Grup, mencatat penurunan laba bersih sebesar 4 persen menjadi Rp 521 miliar, disebabkan penurunan underwriting income. Perusahaan patungan asuransi jiwa Grup, PT Astra Aviva Life (Astra Life) menambah lebih dari 781.000 nasabah baru asuransi jiwa perorangan dan 57.000 nasabah baru asuransi program kesejahteraan karyawan selama semester pertama tahun 2020.
Pada bulan Maret 2020, Grup Astra menandatangani perjanjian bersyarat untuk pembelian saham Aviva di perusahaan patungan Astra Life.
Pada bulan Mei 2020, Grup Astra menyelesaikan penjualan 44,56 persen sahamnya di Bank Permata, dengan nilai transaksi bersih Rp16,8 triliun.
Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi dan Energi
Laba bersih Grup dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi menurun sebesar 29 persen menjadi Rp 2,4 triliun, terutama disebabkan oleh penjualan alat berat dan volume kontrak penambangan yang lebih rendah, akibat melemahnya harga batu bara. Berikut adalah ikhtisarnya:
PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5 persen sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 28 persen menjadi Rp 4,1 triliun.
Penjualan alat berat Komatsu menurun 56 persen menjadi 853 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan juga menurun.
Bisnis kontraktor penambangan, PT Pamapersada Nusantara (PAMA), mencatat penurunan volume pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 10 persen menjadi 420 juta bank cubic metres dan penurunan produksi batu bara sebesar 8 persen menjadi 56 juta ton.
Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 14 persen menjadi 5,6 juta ton, termasuk penjualan 869.000 ton coking coal. Namun, kinerja bisnis ini juga terdampak harga batu bara yang lebih rendah.
PT Agincourt Resources, anak perusahaan yang 95 persen sahamnya dimiliki UT, melaporkan penurunan penjualan emas sebesar 4 persen menjadi 186.000 ons.
Perusahaan kontraktor umum yang 50,1 persen sahamnya dimiliki UT, PT Acset Indonusa Tbk (Acset), melaporkan penurunan rugi bersih sebesar 38 persen menjadi Rp252 miliar, terutama karena menurunnya biaya pendanaan setelah diterimanya pembayaran yang berhubungan dengan proyek jalan tol Jakarta-Cikampek.
Agribisnis
Laba bersih dari divisi Agribisnis Grup mencapai Rp 312 miliar, meningkat secara signifikan dibandingkan laba bersih pada semester pertama tahun 2019, karena harga minyak kelapa sawit yang lebih tinggi. Berikut adalah ikhtisarnya:
PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) yang 79,7 persen sahamnya dimiliki Perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih dari Rp 44 miliar menjadi Rp 392 miliar, terutama disebabkan oleh meningkatnya harga minyak kelapa sawit, khususnya pada kuartal pertama tahun 2020, walaupun harga minyak kelapa sawit menurun pada kuartal kedua.
Peningkatan harga rata-rata minyak kelapa sawit sebesar 26 persen menjadi Rp 8.109/kg dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Volume penjualan minyak kelapa sawit dan produk turunannya menurun sebesar 13 persen menjadi 1.030.000 ton.
Infrastruktur dan Logistik
Divisi infrastruktur dan logistik Grup mencatat rugi bersih Rp 88 miliar, dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp 83 miliar pada semester pertama tahun 2019, terutama disebabkan penurunan pendapatan jalan tol. Berikut adalah ikhtisarnya:
Astra mempunyai kepemilikan saham di 350 km ruas jalan tol yang telah beroperasi sepanjang jaringan jalan tol Trans-Jawa dan tol lingkar luar Jakarta.
Terjadi penurunan volume lalu lintas sebesar 18 persen pada konsesi jalan tol Grup Astra.
Laba bersih PT Serasi Autoraya (SERA) menurun sebesar 62 persen menjadi Rp 34 miliar, terutama karena marjin operasi yang lebih rendah, walaupun jumlah kontrak sewa kendaraan naik sebesar 3 persen menjadi 22.900 unit dan penjualan mobil bekas naik sebesar 3 persen menjadi 15.300 unit.
Teknologi Informasi
Laba bersih dari segmen teknologi informasi Grup menurun 64 persen menjadi Rp 16 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan dari bisnis solusi dokumen dan layanan perkantoran PT Astra Graphia Tbk (AG), yang 76,9 persen sahamnya dimiliki Perseroan.
Properti
Divisi properti Grup melaporkan peningkatan laba bersih dari Rp 32 miliar menjadi Rp 71 miliar, terutama karena tingkat hunian yang lebih tinggi di Menara Astra dan pengakuan laba dari proyek pengembangan Asya Residences.
