Astra Prediksi Bisnis Tambang Bisa Membaik pada Semester II 2026

PT Astra International Tbk (ASII) memproyeksi bisnis mining solution and heavy equipment berpotensi membaik pada semester II 2026.
Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Rudy, mengatakan kinerja otomotif dan jasa keuangan masih menunjukkan ketahanan sepanjang semester I 2026. Kondisi itu mampu mengimbangi pelemahan yang terjadi pada bisnis mining solution and heavy equipment.
“Jadi kita bisa melihat bahwa sepanjang semester 1 2026 kinerja otomotif dan jasa keuangan tetap resilient, mengimbangi pelemahan di mining solution and heavy equipment,” kata Rudy saat Public Expose Live 2026 secara daring, Kamis (10/9).
Memasuki semester II 2026, Rudy memperkirakan bisnis otomotif dan jasa keuangan tetap kuat. Sementara itu, bisnis mining solution and heavy equipment berpotensi mengalami perbaikan.
“Dan memasuki semester 2 kami memperkirakan bahwa otomotif dan jasa keuangan akan tetap resilient. Sementara mining solution and heavy equipment berpotensi membaik,” ujarnya.
Rudy menjelaskan salah satu faktor yang mendukung prospek ialah kembali beroperasinya tambang emas Martabe sejak Mei 2026.
Selain itu, peningkatan potensi produksi batu bara juga diharapkan bisa memberikan kontribusi terhadap perbaikan kinerja bisnis pertambangan Astra. Ini didukung adanya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada semester II 2026.
“Itu didukung oleh kembalinya tambang emas Martabe yang sudah mulai beroperasi sejak Mei 2026, dan juga peningkatan potensi produksi batu bara di mana ada revisi RKAB di semester 2 ini,” kata Rudy.
Astra Tetap Optimistis hingga Akhir 2026
Secara keseluruhan, Rudy menilai prospek bisnis hingga akhir 2026 masih cukup positif meskipun perseroan menghadapi berbagai tantangan, baik dari kondisi global maupun domestik.
“prospek sampai akhir tahun 2026 cukup positif. Jadi sih optimistik lah, meskipun berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini dari jarang tantangan global maupun domestik,” lanjut Rudy.
Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, Astra mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 36 triliun sepanjang 2026. Dari besaran itu, sekitar Rp 15 triliun dialokasikan untuk maintenance capex dan Rp 20 triliun untuk investasi.
Hingga semester I 2026, realisasi capex Astra telah mencapai Rp 16,9 triliun. Sebanyak Rp 11,7 triliun di antaranya mayoritas digunakan untuk akuisisi tambang emas Arafura Surya Alam oleh grup United Tractors, sedangkan Rp 5,2 triliun digunakan untuk capex rutin, termasuk pembelian alat berat untuk bisnis kontraktor pertambangan.
