Kumparan Logo

Asumsi Rupiah Rp 16.100 per Dolar AS di RAPBN 2025, Ini Kata Ekonom

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi melemah 19 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp15.573 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.554 per dolar AS, senin (31/10). Foto: Citro Atmoko/ANTARA
zoom-in-whitePerbesar
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi melemah 19 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp15.573 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.554 per dolar AS, senin (31/10). Foto: Citro Atmoko/ANTARA

Presiden Jokowi memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di sekitar Rp 16.100 per dolar AS pada tahun 2025. Hal ini disampaikan dalam pidato keuangan tahun 2025 pada Jumat (19/8) lalu.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan asumsi nilai tukar rupiah tersebut berpotensi mempengaruhi beban belanja pemerintah, khususnya dalam bentuk subsidi energi dan pembayaran bunga utang yang sebagian besar berdenominasi dolar AS.

"Meskipun stabilitas nilai tukar akan didukung oleh kebijakan ekonomi makro yang prudent, potensi pelemahan rupiah yang diproyeksi di atas Rp 16.000 per dolar AS tetap membawa risiko, terutama terhadap biaya belanja pemerintah seperti subsidi energi dan bunga utang," kata Josua kepada kumparan, Senin (19/8).

Menurut dia, hal tersebut dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah, terutama untuk belanja non-prioritas atau belanja yang tidak langsung mendorong pertumbuhan ekonomi. Risiko tersebut semakin besar jika terjadi kenaikan imbal hasil SBN atau capital outflow yang memperberat beban pembiayaan utang.

Sementara itu, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS cenderung terus menunjukkan penguatan pada paruh kedua tahun 2024 ini seiring dengan naiknya sentimen positif, baik yang bersumber dari luar negeri maupun dalam negeri.

"Dari luar negeri, terutama dari AS, data-data terkini menunjukkan soft landing ekonomi AS kemungkinan akan terjadi, di mana tanda-tanda perlambatan ekonomi AS semakin terlihat namun tidak sampai mengakibatkan resesi," kata Josua.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi melemah 19 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp15.573 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.554 per dolar AS, senin (31/10). Foto: Citro Atmoko/ANTARA
zoom-in-whitePerbesar
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi melemah 19 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp15.573 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.554 per dolar AS, senin (31/10). Foto: Citro Atmoko/ANTARA

Adapun proses disinflasi atau penurunan tingkat inflasi di AS terus berlanjut, dan tingkat pengangguran meningkat namun dalam tingkat yang masih dapat dikelola. Kinerja sektor riil di AS juga sudah mulai melambat namun dinilai tidak akan mengakibatkan resesi.

"Oleh karena itu risk on sentimen di pasar keuangan global cenderung menguat karena perkembangan data-data ekonomi AS tersebut semakin membuka ruang pemotongan suku bunga kebijakan the Fed atau Fed Funds Rate (FFR) di tahun ini. Hal ini memicu capital inflow ke negara-negara berisiko yang menawarkan return aset keuangan yang lebih tinggi, seperti negara-negara emerging market di Asia, termasuk Indonesia," ujar Josua.

Perkembangan ekonomi kawasan Asia-Pasifik saat ini, terlepas dari perkembangan kondisi ekonomi Tiongkok, diprediksi masih akan positif dan masih mampu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi dunia.

"Daya tarik Indonesia sebagai destinasi investasi juga didukung oleh faktor dalam negerinya. Kemudian outlook ekonomi Indonesia dinilai positif dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga dan inflasi yang terkendali," kata Josua.

Mengutip dari Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 15.550 per dolar AS. Angka ini menguat 0,91 persen dari posisi akhir pekan lalu di Rp 15.693 per dolar AS. Bahkan, posisi ini paling kuat sejak 16 Januari 2024 atau dalam enam bulan terakhir.

instagram embed