Bahlil Minta Pertamina Wajib Impor BBM dan LPG dari AS: Tak Ada Alasan
·waktu baca 3 menit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan PT Pertamina (Persero) tetap harus mengimpor BBM dan LPG dari Amerika Serikat (AS) meskipun ada risiko dan tantangan.
Pertamina menyebutkan ada sejumlah risiko dan tantangan teknis dalam mengimpor komoditas energi dari AS, misalnya jarak pengiriman yang terlampau jauh sehingga memakan waktu 40 hari dibandingkan impor dari Timur Tengah atau Asia.
Enggak ada alasan. LPG kita juga kan kita impor dari Amerika," tegas Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (23/5).
Bahlil mengatakan, meskipun butuh waktu lama untuk logistik, selama ini Indonesia sudah lama mengimpor komoditas energi dari AS, misalnya setengah dari impor LPG dipasok dari AS.
"Total LPG kita konsumsi nasional, dari total impor LPG nasional, 50 persen lebih itu kan dari Amerika. Jadi enggak ada soal," tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyoroti arahan pemerintah terkait impor BBM dan LPG dari AS sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber energi nasional, sekaligus bahan negosiasi tarif impor resiprokal.
Simon mengatakan, Pertamina telah menjalin kerja sama rutin dengan mitra AS, khususnya untuk pasokan minyak mentah yang saat ini sekitar 4 persen dari total impor. Serta LPG yang mencapai 57 persen dari total impor dengan nilai transaksi sekitar USD 3 miliar per tahun.
Namun, Simon menyebut, pemerintah meminta Pertamina mengkaji ulang portofolio impor dengan kemungkinan peningkatan porsi dari Amerika Serikat melalui pengalihan dari negara lain, bukan penambahan volume impor.
“Perlu kami sampaikan dan garis bawahi bahwa pengalihan ini bersifat shifting sumber pasokan bukan penambahan volume impor. Kami tetap berkomitmen menjaga efisiensi volume import dan memastikan ketahanan energi nasional tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya saat Rapat dengan Komisi VI DPR, Kamis (22/5).
Simon juga mengatakan, saat ini Pertamina sedang menjajaki ketersediaan pasokan dari Amerika Serikat yang memenuhi aspek kualitas, volume, dan harga yang kompetitif.
Namun, ada sejumlah tantangan teknis dan risiko yang harus diperhatikan, seperti jarak pengiriman yang jauh sekitar 40 hari dibandingkan dengan sumber pasokan dari Timur Tengah atau negara Asia.
“Apabila terjadi kendala faktor cuaca seperti badai ataupun kabut, mereka akan berdampak langsung pada ketahanan stok nasional. Karena itu, Pertamina saat ini sedang melakukan kajian komprehensif mencakup aspek teknis, komersial, dan risiko operasional untuk memastikan bahwa skenario peningkatan suplai dari Amerika Serikat dapat dilakukan secara efektif,” jelas Simon.
Simon juga meminta adanya dukungan kebijakan dari pemerintah berupa payung hukum dalam bentuk Peraturan Presiden maupun Peraturan Menteri yang menjadi dasar pelaksanaan kerja sama suplai energi.
