Bahlil Pastikan Tak Ada Pemangkasan Jatah Ekspor Gas pada 2026
·waktu baca 3 menit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan tidak ada lagi pemangkasan ekspor gas bumi pada tahun ini, seperti yang terjadi pada tahun 2025 lalu karena krisis pasokan di dalam negeri.
Bahlil menyebutkan, fenomena krisis pasokan gas untuk industri dan pembangkit yang terjadi pada pertengahan tahun lalu merupakan dinamika yang dipastikan tidak lagi terjadi pada tahun ini.
Pada saat itu, pemerintah mengakali seretnya pasokan gas pipa untuk industri dengan mekanisme peralihan atau swap alokasi gas alam cair (LNG) yang seharusnya diekspor, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dia memastikan kebijakan itu tidak akan dilakukan lagi.
"Saya janji kepada bapak-ibu semua, di 2025 itu kejadian pengalaman baru satu tahun pemerintahan Bapak Presiden Prabowo, tapi di 2026 tidak akan ada lagi pemotongan kuota ekspor untuk market ataupun yang sudah dikontrakkan ke luar negeri," tegas Bahlil saat IPA Convex ke-50, Rabu (20/5).
Dengan demikian, Bahlil memberikan kepastian kepada pelaku usaha hulu gas dapat menyelesaikan kontrak yang sudah diteken dengan pembeli sepanjang tahun ini.
"Jadi tidak perlu ada kekhawatiran lagi, semuanya sudah saya setujui untuk ekspornya semua. Jadi semuanya sudah saya tanda tangani, tidak ada lagi. Biarlah kebutuhan dalam negeri kita putar otak,"
Di sisi lain, Bahlil mengatakan pemerintah akan terus memutar otak memastikan pasokan gas bumi untuk industri berjalan lancar tanpa memangkas alokasi ekspor. Namun, dia meminta para kontraktor tetap memprioritaskan pasokan dalam negeri utamanya bagi PT PLN (Persero) dan PT PGN.
"Untuk yang baru, ada Inpex, ada beberapa KKKS yang muncul untuk gas, kalau sudah dipasarkan di luar negeri dan kemudian mereka masih lambat, saya sudah minta untuk Pertamina, dalam hal ini PLN, PGN, maupun beberapa perusahaan lain yang untuk offtaker dalam negeri, kita beli supaya bisa ada kepastian offtaker agar semuanya bisa berjalan," tandasnya.
Sebelumnya, Bahlil menegaskan alokasi produksi gas, termasuk Liquefied Natural Gas (LNG) untuk konsumsi dalam negeri pada tahun 2026 dipastikan aman. Katanya, pihaknya juga tetap menjaga komitmen ekspor sebesar 28 hingga 30 persen dari total produksi gas nasional.
“Alokasi untuk konsumsi dalam negeri di tahun 2026 itu sudah clear. Termasuk dengan komitmen kita terhadap market di luar negeri, sekitar kurang lebih 28 sampai 30 persen total produksi gas kita, itu memang ekspor untuk memenuhi komitmen dengan pasar luar negeri,” jelas Bahlil usai konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin (20/4).
Bahlil menjamin, kondisi tahun 2026 sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun 2025 yang sempat mengalami defisit sekitar 40 hingga 50 kargo.
“Sekarang kita sudah clear kan semuanya dan kita memenuhi kewajiban kita baik kepada dalam negeri maupun offtaker di luar negeri,” lanjut Bahlil.
