Bahlil Pastikan Tambahan Produksi BYAN Tak Terkait Akuisisi Haji Isam

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan penerbitan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) tiga anak perusahaan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tidak terkait aksi korporasi dengan Haji Isam.
Tiga anak perusahaan Bayan Resources yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, menyatakan keadaan kahar (force majeure) atas kewajiban pasokan batu bara. Hal ini lantaran revisi yang diusulkan terhadap kuota penambangan belum diterbitkan.
Namun, setelah persetujuan perjanjian jual beli saham BYAN antara Low Tuck Kwong dengan PT Jhonlin Baratama, entitas usaha milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, revisi RKAB tersebut disetujui. Kendati begitu, Bahlil menekankan bahwa kedua hal itu tidak berkaitan.
“Enggak ada, itu kan berproses aja. Persoalan transaksi itu kan B2B (business to business), urusan RKAB kan urusan proses,” tegasnya saat ditemui di ICE BSD, Selasa (22/9).
Pasalnya, Bahlil menyebutkan bahwa pengajuan tambahan kuota produksi itu sudah dilakukan dari awal dan prosesnya selesai setelah aksi korporasi diteken.
“Ya kan sudah diajukan dari awal, terus berproses,” imbuh Bahlil.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba), Tri Winarno, mengatakan keadaan kahar dalam konsesi tambang Bayan sudah dievaluasi oleh pemerintah. Saat ini, hanya beberapa perusahaan yang proses pengajuan RKAB-nya belum selesai.
“Itu sedang dilakukan evaluasi. Kalau sekarang itu untuk RKAB tinggal sedikit banget lah yang belum memenuhi. (Bayan) sudah, kalau sekarang sudah,” ungkapnya saat ditemui di Balai Sudirman Jakarta, Senin (21/9).
Tri mengungkapkan, tersendatnya produksi batu bara disebabkan karena ada persyaratan dokumen yang belum terpenuhi. Dia menegaskan bahwa dari sekian anak usaha Bayan, hanya 3 anak usaha yang belum rampung.
Tri pun mengungkapkan total tambahan kuota produksi batu bara dalam revisi RKAB tiga perusahaan tersebut mencapai 15-20 juta ton. “Angkanya berapa ya? 15-an apa 20 (juta) ya. Total untuk tiga itu kayaknya,” ungkapnya.
Dalam laman resminya, Bayan saat ini memiliki 5 Kontrak Batubara (CCOW) dan 16 Konsesi Penambangan (IUP) yang mencakup lebih dari 126.000 hektar yang berlokasi di Kalimantan Timur dan Selatan. Konsesi saat ini dikelompokkan menjadi 4 proyek pertambangan aktif.
Adapun berdasarkan keterangan di keterbukaan Bursa Efek Indonesia (BEI), total ada 10 miliar saham BYAN yang bakal diborong Haji Isam.
“Berdasarkan surat-surat pemberitahuan yang kami terima, Bapak Low Tuck Kwong dan Ibu Elaine Low telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat pada tanggal 16 September 2026 dengan PT Jhonlin Baratama terkait rencana pengalihan 10.000.000.500 saham biasa Perseroan dan penyelesaian transaksi tunduk pada pemenuhan beberapa kondisi-kondisi pendahuluan,” tulis BYAN dalam keterbukaan informasi dikutip pada Jumat (18/9).
