Bahlil Sebut Kilang Balikpapan Bakal Diresmikan November 2025
19 Oktober 2025 18:38 WIB
·
waktu baca 3 menit
Bahlil Sebut Kilang Balikpapan Bakal Diresmikan November 2025
Bahlil memastikan 18 titik proyek kilang sudah masuk studi kelaikan atau feasibility study (FS). kumparanBISNIS

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini, Bahlil mencatat terdapat rencana pembuatan kilang pada 18 titik di mana dua kilang di antaranya sedang dikerjakan agar bisa memulai operasi. Salah satunya adalah Kilang RDMP Balikpapan.
“Kilang, dari 18 titik yang dibicarakan. Ada dua kilang ya. Kilang kalau yang sekarang refinery yang ada di Kalimantan Timur yang punya Pertamina, itu untuk beberapa produknya akan diresmikan di bulan November ini,” kata Bahlil ditemui di kediaman Presiden Prabowo, Jakarta Selatan pada Minggu (19/10).
Untuk 18 titik proyek kilang yang dimaksud, Bahlil menyebut studi kelaikan atau feasibility study (FS) yang dilakukan sudah final. Dengan begitu, pengerjaan proyek bisa segera dilakukan.
“Sementara untuk kilang-kilang baru yang kita lagi kerjakan di 18 titik, itu mudah-mudahan dari Danantara, FS-nya udah final. Kalau sudah final, itu sudah bisa kita mulai implementasikan karena arahan Bapak Presiden, setiap wilayah itu ada kilang portable spot-spot,” ujar Bahlil.
ADVERTISEMENT
Proyek RDMP Balikpapan diharapkan bisa meningkatkan kapasitas pengolahan dari semula 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari, peningkatan kompleksitas kilang menjadi NCI 8.
Selain itu, proyek ini juga ditargetkan bisa meningkatkan kualitas produk BBM yang dihasilkan Kilang Balikpapan menjadi setara Euro V atau kandungan sulfur 10 ppm, dari yang saat ini masih Euro II, serta peningkatan yield valueable product menjadi 91,8 persen.
Adapun produk yang akan dihasilkan dari kilang RDMP Balikpapan yakni BBM, LPG, dan petrokimia, dengan target penambahan BBM sebesar 142 ribu barel per hari.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti persoalan energi di Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada impor produk minyak dari luar negeri, terutama Singapura. Ia menyinggung Indonesia tidak pernah lagi membangun kilang minyak baru sejak terakhir kali pada tahun 1988 yaitu Kilang Balongan.
ADVERTISEMENT
“Sudah berapa puluh tahun kita alami hal ini? Kita pernah bangun kilang baru, enggak? Sejak krisis sampai sekarang, enggak pernah,” ujar Purbaya dalam rapat dengan Komisi XI DPR, Selasa (30/9).
Purbaya mengingatkan, rencana pembangunan tujuh kilang baru oleh Pertamina yang dijanjikan sejak 2018 hingga kini tak ada satu pun yang terealisasi. Menurutnya, hal ini membuat Indonesia terus merugi karena harus mengimpor produk minyak jadi dari luar negeri.
“Dulu mereka janji dalam lima tahun akan bangun tujuh kilang. Sampai sekarang enggak ada satu pun. Jadi kita rugi besar, karena kita impor dari Singapura,” tegasnya.
Ia menambahkan, parlemen juga perlu ikut mengawasi Pertamina agar proyek-proyek strategis benar-benar berjalan. Jika tidak ada progres, pemerintah tak segan memangkas anggaran bahkan mengganti pimpinan perusahaan.
ADVERTISEMENT
