Bahlil Ungkap Alasan Setop Kontrak LG di Megaproyek Ekosistem Baterai EV
ยทwaktu baca 3 menit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan LG Energy Solution (LGES) bukan memilih mundur dari proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Menurutnya, yang terjadi adalah pemerintah melakukan terminasi atau penghentian kontrak LG.
Bahlil menjelaskan, alasan terminasi kontrak LG dari proyek tersebut lantaran perusahaan asal Korea Selatan tidak melaksanakan perjanjian yang tercantum dalam Memorandum of Understanding (MoU).
"LG itu sekarang posisinya bukan keluar, memang kita terminasi. Kenapa kita terminasi? Karena dari komitmen yang sudah disepakati dalam MoU itu belum dilaksanakan," jelasnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (23/5).
Dari total komitmen investasi LG di ekosistem baterai Indonesia sebesar USD 9,8 miliar, Bahlil menyebutkan baru terealisasi USD 1,2 miliar. Maka pemerintah menghentikan kontraknya dan digantikan oleh Zhejiang Huayou Cobalt.
Investasi tersebut, untuk proyek Omega berupa pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik dalam konsorsium PT Hyundai LG Industry (HLI) Green Power, yang sudah diresmikan dan mulai berproduksi.
"Karena dia tidak lanjutkan, maka yang menggantikan posisinya adalah Huayou. Kemarin sudah putus di ratas (rapat terbatas), dan di Januari itu saya mengeluarkan surat untuk terminasi terhadap LG," ungkap Bahlil.
Sebelumnya, Menteri Investasi/Kepala BKPM dan Hilirisasi Rosan Roeslani membenarkan LGES sudah menarik investasinya senilai USD 9,8 miliar dari megaproyek pengembangan rantai pasok baterai EV terintegrasi, mulai dari pertambangan, pabrik nickel matte, prekursor, katoda, anoda, sel baterai, hingga daur ulang baterai yang terbagi menjadi 4 joint venture (JV).
Dia menyebutkan, dari 4 JV tersebut, LG sudah merealisasikan groundbreaking proyek JV nomor 4 dengan total investasi USD 1,1 miliar. Dengan begitu, LG tidak sepenuhnya mundur dari megaproyek baterai EV di Indonesia.
"Kita juga ingin berinvestasi ini berjalan, oleh sebab itu memang diputuskan untuk proyek ini tetap berjalan, tetapi memang digantikan oleh partner lain. Partner lain ini juga sudah berjalan, diskusinya," kata Rosan dalam keterangan pers Sekretariat Presiden, Rabu (23/4).
Kemudian, Rosan menyebutkan pemerintah telah menunjuk mitra baru yang menggantikan posisi LG, yakni Huayou. Perusahaan tersebut juga sudah memiliki beberapa investasi di sektor hilirisasi nikel Indonesia.
Hal tersebut diputuskan berdasarkan surat tertanggal 31 Januari 2025 yang diterbitkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kepada pimpinan LG Chem dan LGES, setelah negosiasi yang berlangsung cukup alot selama 5 tahun ke belakang.
"Surat itu dikeluarkan karena memang dari Huayou itu berminat untuk berinvestasi, karena mereka teknologinya juga sudah ada dan mereka hanya me-replace atau menggantikan posisi dari LG," ungkap Rosan.
Dengan demikian, Rosan memastikan total investasi proyek ekosistem baterai EV sebesar USD 9,8 miliar tersebut tidak berubah dan akan tetap berjalan dengan mitra baru bersama PT Antam (Persero) dan PT Indonesia Battery Corporation (IBC).
