Bahlil Ungkap Subsidi LPG Bisa Tembus Rp 100 T Imbas Impor Gas Mahal

Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan subsidi energi untuk LPG 3 kilogram bisa menembus Rp 100 triliun pada tahun 2026.
Hal ini disebabkan konflik geopolitik yang terus memanas, baik itu antara Israel-Palestina, Rusia-Ukraina, AS-Iran hingga melebar kepada Arab Saudi dan Yaman, melahirkan ketidakpastian pasokan energi.
Bahlil menyebutkan, Indonesia menghadapi tantangan kenaikan nilai impor migas, terutama LPG. Pasalnya, konsumsi nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,9 juta ton.
“Kapasitas produksi kita di dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun. Jadi kita impor itu kurang lebih sekitar 7 sampai 8 juta ton per tahun,” ungkapnya saat peresmian Kilang LPG Cilamaya, Kamis (15/10).
Asumsi makro Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel, sehingga subsidi energi untuk LPG 3 kg ditetapkan Rp 87 triliun. Namun saat ini, rata-rata ICP sudah di atas USD 100 per barel.
“Tapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka USD 90 sampai 100, itu subsidi kita di atas hampir Rp 100 triliun. Ini devisa kita banyak sekali yang keluar dan kemudian mampu kita subsidi kepada rakyat yang begitu besar,” jelas Bahlil.
Untuk itu, Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia harus lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi. Salah satunya dengan produksi gas, meskipun mayoritas tidak bisa menjadi bahan baku LPG.
Saat ini, Indonesia bisa memproduksi liquified natural gas (LNG), bahkan 30 persennya bisa diekspor. Namun, bahan bakunya berbeda dengan LPG yang masih harus diimpor.
“LNG itu semuanya memenuhi dipenuhi oleh produksi dalam negeri, bahkan kita ekspor 30 persen. Tetapi LNG itu bahan bakunya itu C1-C2, di mana C1-C2 ini tidak cocok dipakai untuk LPG,” ucap Bahlil.
Kebutuhan LPG yang besar terutama bagi masyarakat DKI Jakarta dan Jawa Barat. Bahlil menyebut volumenya mencapai 1.500 ton per hari. Sekitar 15 persen pasokannya bisa dipenuhi Kilang LPG Cilamaya yang dioperasikan PT Energi Nusantara Perkasa.
“Untuk daerah Jakarta-Jawa Barat, per hari itu kurang lebih sekitar 1.000 sampai 1.500 ton per hari. Hari ini kita bisa melakukan sekitar 160 ton, itu berarti kan 10 sampai 15 persen konsumsi LPG di Jawa Barat dan DKI Jakarta dipenuhi dari kilang ini,” tuturnya.
