Bahlil Usul ASEAN Punya Pusat Penyimpanan Cadangan Minyak, Bisa Dibangun di RI
·waktu baca 3 menit

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan pembentukan storage hub atau pusat penyimpanan cadangan minyak ASEAN. Usulan itu dibahas dalam agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Filipina pada 7 Mei 2026 lalu.
Bahlil mengatakan dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo mendorong negara-negara ASEAN membangun kerja sama energi kawasan yang saling menguntungkan, terutama untuk menghadapi kondisi global yang semakin tak menentu.
“Nah di Asia Tenggara kita kemarin merumuskan dua hal, kita bikin ada hub untuk storage cadangan minyak untuk ASEAN,” kata Bahlil di kantor pusat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5).
Menurutnya, situasi geopolitik dunia saat ini membuat banyak negara mulai fokus memperkuat kepentingan dan ketahanan energi masing-masing. Karena itu, ASEAN perlu memiliki sistem cadangan energi bersama agar lebih siap menghadapi potensi gangguan pasokan global.
Rencana ini melibatkan sejumlah negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina. Fasilitas penyimpanan minyak itu diharapkan bisa menjadi penyangga pasokan energi untuk kawasan ASEAN.
“Tapi juga kita melakukan kerja sama dengan Malaysia, Brunei, Filipina, dan Indonesia. Nah ini adalah ide yang bagus, kita membangun storage di mana aja,” ujar Bahlil.
Bahlil mengungkapkan Indonesia menawarkan pembangunan pusat cadangan minyak berskala besar di wilayah Sumatera. Pemerintah berencana mengembangkan Sumatera jadi kawasan ekonomi khusus sekaligus pusat cadangan energi nasional dan regional ASEAN.
“Tapi kemarin saya tawarkan untuk di Indonesia kita membangun cadangan yang cukup besar yang pada akhirnya kemudian ini menyuplai ke negara-negara di Asia Tenggara itu satu,” tutur Bahlil.
Bahlil menegaskan ide pembangunan storage hub minyak ASEAN masih dalam tahap pembahasan dan belum masuk tahap implementasi. Pemerintah masih akan menyiapkan formulasi dan kesiapan infrastruktur sebelum proyek dijalankan.
“Ide itu muncul di saat kita sudah siap untuk mengimplementasikan dan kita rencana akan membangun kawasan itu di Sumatera. Kita akan bikin kawasan ekonomi khusus yang pada akhirnya kemudian itu menjadi cadangan penyangga nasional kita,” ujar Bahlil.
Selain membahas cadangan minyak regional, Indonesia juga mendorong kerja sama energi baru terbarukan di ASEAN. Salah satunya pengembangan biodiesel B50 serta pemanfaatan energi surya hingga 100 gigawatt (GW).
“Nah kemarin Pak Presiden Prabowo menyampaikan tentang biodiesel yang sudah B50 bahkan untuk kita memakai solar panel 100 GW,” kata Bahlil.
Pemerintah juga membahas pengembangan jaringan listrik lintas negara atau power grid bersama Malaysia dan negara ASEAN lainnya “Sekarang kan kita sudah bangun jaringan antara Malaysia, Indonesia, sebentar lagi yang masuk Filipina,” ungkap Bahlil.
Selain itu, Singapura juga disebut tertarik mengimpor listrik dari Indonesia. Ia menegaskan kerja sama ekspor listrik harus memberikan keuntungan yang adil bagi kedua negara.
“Itu bagus, harganya cengli tapi untuk Singapura kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk dilakukan kajian lebih mendalam,” tegas Bahlil.
