Bangun Klaster Baja, Indonesia Kurangi Impor Hingga 80 Persen

Kementerian Perindustrian mencatat, kebutuhan crude steel (baja kasar) nasional yang saat ini sudah mencapai 14 juta ton, namun industri baja dalam negeri baru mampu memproduksi 8 juta ton.
Untuk itu, Indonesia segera memiliki kapasitas baja yang besar untuk mewujudkan negara mandiri dari impor baja. Dengan adanya klaster industri baja di Cilegon, Indonesia akan memproduksi 10 juta ton baja pada tahun 2025.
“Industri baja sebagai salah satu prioritas yang tengah kami kembangkan. Sektor ini sebagai mother of industry karena produknya merupakan bahan baku utama bagi kegiatan sektor industri lainnya,” kata Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan, melalui keterangan resmi yang dikutip kumparan (kumparan.com), Rabu (24/5).

Optimisme tersebut didasarkan pada pertumbuhan ekonomi nasionalyang terus mengalami perbaikan. Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I tahun 2017 sebesar 5,01 persen atau naik dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2016 sekitar 4,92 persen. Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal IV-2016 sebesar 4,94 persen.
Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KS), Mas Wigrantoro Roes Setyadi menyampaikan, perseroan dan perusahaan baja Korea, Posco telah bekerja sama membangun klaster untuk mendukung produksi hingga 10 juta ton baja di Cilegon Banten.
“Kawasan industri Krakatau Steel di Cilegon saat ini ditempati oleh industri baja terpadu, yakni PT KS dan PT Krakatau Posco (perusahaan patungan PT KS dan Posco),” paparnya.

Selain itu, menurut Mas Wig, kawasan industri di Cilegon memiliki infrastruktur pendukung yang baik seperti pembangkit energi, air baku industri dan pelabuhan curah terdalam di Indonesia.
Saat ini, kapasitas produksi PTKS digabungkan dengan PT Krakatau Posco telah mencapai 4,5 juta ton, dan segera meningkat kembali dengan beroperasinya pabrik HSM#2 berkapasitas 1,5 juta ton pada akhir tahun 2019, sehingga total akan mencapai 6 juta ton. Artinya, hanya perlu menambah 4 juta ton untuk mencapai proyek 10 juta ton dari klaster tersebut.

Mas Wig menyampaikan, klaster baja Cilegon ini bakal menghasilkan baja gulungan untuk konstruksi, baja lembaran untuk peralatan rumah tangga, perkapalan, mobil, hingga baja lembaran berkualitas tinggi.
“Kami berharap pula akan membawa kemajuan signifikan dalam produksi baja mandiri,” ujarnya.
Konsumsi baja nasional pada tahun 2016 meningkat tajam sebesar 12,67 juta ton setelah mengalami penurunan di tahun 2015 yang hanya mencapai 11,37 juta ton.
“Pendirian klaster 10 juta ton baja yang akan selesai di 2025, siap menggantikan 70-80 persen baja impor,” ungkap Mas Wig.
