Kumparan Logo

Bank DBS Sebut BI Rate Masih Bisa Turun Lagi, Rupiah-Inflasi Terkendali

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Chief Economist DBS Group Research Taimur Baig dalam Media Briefing Asian Insight Conference Bank DBS, di Jakarta Pusat, Rabu (21/5/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Chief Economist DBS Group Research Taimur Baig dalam Media Briefing Asian Insight Conference Bank DBS, di Jakarta Pusat, Rabu (21/5/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei yang digelar hari ini, Rabu (21/5).

Chief Economist DBS Group Research, Taimur Baig, menuturkan bahwa penurunan suku bunga sebagai respons bank sentral atas terkendalinya inflasi juga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Penguatan rupiah terhadap dolar AS juga diprediksi akan membuat laju inflasi terkendali hingga akhir tahun ini. Bahkan menurutnya, BI masih memiliki ruang untuk kembali memangkas suku bunga.

“Inflasi akan terkendali yang akan membuka ruang untuk pemangkasan suku bunga, tidak hanya di Indonesia, tetapi di banyak bagian dunia. Hal lainnya adalah karena mata uang menguat terhadap dolar AS,” kata Taimur dalam Media Briefing Asian Insight Conference Bank DBS, di Jakarta Pusat, Rabu (21/5).

instagram embed

Selain rupiah, dia melihat mata uang negara lain juga mengalami penguatan terhadap dolar AS. Sehingga, bukan hanya bisa BI, tetapi juga banyak bank sentral di negara lain juga memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan.

“Kita akan melihat risiko inflasi mereda, itu tentu saja hal yang baik untuk biaya hidup untuk dukungan konsumsi dan sebagainya,” jelasnya.

BI menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 0,25 persen menjadi 5,5 persen pada bulan Mei 2025. Selain itu, BI juga menurunkan suku bunga deposit facility sebesar 0,25 persen menjadi 4,75 persen dan lending facility sebesar 0,25 persen menjadi 6,25 persen.

Perry menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2024 dan 2025. Serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ke depan, BI terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan dengan tetap memperhatikan prospek inflasi nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi.