Bank Dunia dan IMF Sebut Ada Risiko dan Bahaya Nyata Resesi Global di 2023

Presiden Bank Dunia, David Malpass, menyebut ada risiko terjadinya resesi global di tahun 2023. Hal tersebut tercermin dari perlambatan ekonomi yang terjadi di beberapa negara maju, khususnya di Eropa.
"Ada risiko dan bahaya nyata dari resesi dunia tahun depan," kata Malpass dalam diskusi bersama Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) bertajuk The Way Forward: Addressing Multiple Crises in an Era of Volatility, Senin (10/10).
Malpass menjelaskan negara berkembang akan terbebani dengan depresiasi mata uang karena resesi tahun depan. Depresiasi itu tentunya akan berpengaruh terhadap utang negara tersebut. Tak hanya itu, kenaikan suku bunga acuan di sejumlah negara maju juga akan menjadi beban tambahan bagi negara berkembang.
"Inflasi masih akan menjadi masalah utama seluruh dunia, terutama bagi masyarakat miskin," ujar Malpass.
Dalam laporan bertajuk Poverty & Equity Brief East Asia & Pacific yang dirilis Bank Dunia di tahun 2020, pandemi telah membuat sekitar 70 juta orang ke dalam kemiskinan. Ini merupakan peningkatan terbesar sejak pemantauan kemiskinan global yang dimulai pada 1990.
Tak hanya itu, pendapatan rata-rata 40 persen orang termiskin turun 4 persen dari pendapatan rata-rata. Akibatnya, sebanyak 719 juta orang diperkirakan hidup dengan pengeluaran kurang dari USD 2,15 per hari pada akhir 2020.
Senada, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva mengatakan ada peningkatan risiko resesi global, dengan inflasi tetap menjadi masalah yang berkelanjutan setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Georgieva mengatakan IMF melihat masalah signifikan di China atau ekonomi terbesar kedua di dunia. Di mana volatilitas menyeret turun pertumbuhan.
"Hal ini pada gilirannya mempengaruhi negara-negara berkembang karena mereka menghadapi penurunan permintaan untuk ekspor mereka, dan banyak yang merasakan tekanan berat dari harga pangan dan energi yang tinggi," jelas Georgieva.
Georgieva memastikan, IMF akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2023 dari yang semula 2,9 persen. Namun untuk angka pastinya, akan dirilis dalam laporan proyeksi ekonomi IMF pekan depan.
"Dan kami akan menandai bahwa risiko resesi meningkat. Kami memperkirakan bahwa negara-negara yang menyumbang sekitar sepertiga dari ekonomi dunia akan mengalami setidaknya dua kuartal berturut-turut kontraksi tahun ini atau tahun depan. Bahkan ketika pertumbuhan positif, itu akan terasa seperti resesi karena pendapatan riil menyusut dan harga naik," tutur Georgieva.
Secara keseluruhan, IMF memperkirakan kerugian mencapai USD 4 triliun hingga 2026 imbas kondisi global yang tak menentu. "Dan lebih mungkin, (kondisi) menjadi lebih buruk daripada menjadi lebih baik. Ketidakpastian tetap sangat tinggi dalam konteks perang dan pandemi. Mungkin akan ada lebih banyak guncangan ekonomi," ungkap Georgieva.
"Risiko stabilitas keuangan meningkat, penetapan harga aset yang cepat dan tidak teratur dapat diperkuat oleh kerentanan yang sudah ada sebelumnya, termasuk utang negara yang tinggi dan kekhawatiran atas likuiditas di segmen-segmen utama pasar keuangan," tambahnya.
