Bank Dunia Prediksi Ekonomi Global Minus 5,2 Persen, Bagaimana Nasib Indonesia?

Bank Dunia memproyeksi ekonomi global pada tahun ini akan mengalami resesi akibat pandemi virus corona. Diprediksi ekonomi global minus 5,2 persen, terendah sejak Perang Dunia II.
Proyeksi tersebut jauh lebih rendah dari laporan Bank Dunia pada Januari 2020, yang memprediksi ekonomi global tahun ini bisa tumbuh 2,5 persen.
Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Lalu, bagaimana nasib Indonesia?
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 0 persen di tahun ini. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar 5,02 persen.
Ekonom Senior Bank Dunia untuk Indonesia, Ralph Van Doorn, mengatakan anjloknya ekonomi domestik tersebut disebabkan konsumsi rumah tangga yang menurun.
Kondisi tersebut dinilai sejalan dengan berhentinya aktivitas bisnis karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama dua bulan.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan menjadi 0 persen di tahun 2020, dengan adanya dua bulan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang terjadi pada April dan Mei," kata Doorn dalam video conference, Selasa (2/6).
Selain itu, investasi yang terkontraksi dan menurunnya harga komoditas global membuat ekonomi domestik semakin melambat.
Namun dalam perhitungannya, ekonomi Indonesia akan jauh lebih terkontraksi jika kebijakan PSBB berlangsung lebih lama. Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia terkontraksi 3,5 persen jika PSBB berlangsung hingga empat bulan.
Sementara itu, Tim Asistensi Menko Perekonomian Raden Pardede mengatakan, data perekonomian RI selama bulan lalu menunjukkan titik terendah. Seluruh sektor ekonomi terkontraksi dan mencapai level terendah.
Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan beberapa sektor bisnis. Untuk maskapai, turun 87 persen (yoy) di Mei 2020, jauh lebih rendah dibandingkan April 2020 yang terkontraksi 84 persen (yoy).
Selama Januari-Mei 2020, bisnis maskapai anjlok 49 persen (yoy), juga jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4 persen (yoy).
Disusul bisnis hotel yang turun hingga 93 persen (yoy) di Mei 2020, semakin anjlok dari April 2020 yang juga terkontraksi 85 persen (yoy). Selama Januari-Mei 2020, bisnis hotel turun 46 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang positif 5 persen (yoy).
"Kegiatan usaha di berbagai sektor, penurunan di April, artinya berhenti penurunan di Mei, already hit the bottom," ujar Raden dalam video conference, Selasa (9/6).
Perekonomian diproyeksi mulai menyentuh level exit the bottom atau mengalami pemulihan dan bergerak naik di bulan ini. Meski menurut Raden, ekonomi masih akan bergerak di wilayah negatif pada kuartal II 2020.
"Di Juni, ketika mulai opening the economy bertahap, ekonomi akan mulai bergerak naik," katanya.
Namun menurut dia, pergerakan ekonomi tergantung pada respons kebijakan pemerintah maupun bank sentral dalam menanggulangi pandemi COVID-19. Misalnya, jaring pengaman sosial, restrukturisasi kredit, hingga pemberian bantuan kepada dunia usaha.
Adapun kebijakan-kebijakan tersebut telah tertuang dalam aturan pemulihan ekonomi nasional, yang dianggarkan sebesar Rp 677,2 triliun di tahun ini.
