Bank Dunia Proyeksi Ekonomi RI 0 Persen, Ancaman Resesi Masih Ada

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 0 persen. Proyeksi ini lebih baik dibandingkan dengan ekonomi global yang diperkirakan terkontraksi atau minus hingga 5,2 persen di 2020.
Namun perekonomian Indonesia ditargetkan kembali pulih di 2021. Pertumbuhan ekonomi pun diprediksi mencapai 4,8 persen di tahun depan.
Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Satu Kahkonen menjelaskan, proyeksi ekonomi nol persen tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi global yang juga terkontraksi. Namun, proyeksi tersebut dengan catatan tak adanya gelombang kedua pandemi COVID-19 di Indonesia.
"Untuk Indonesia, kami prediksi pertumbuhan ekonomi akan turun dengan cukup signifikan. Perlu kita lihat, proyeksi 0 persen ini diprediksi berdasarkan tiga hal, pertama kontraksi ekonomi global, kedua ekonomi Indonesia akan terbuka kembali per Agustus, dan ketiga tidak ada gelombang kedua dari pandemi," kata Kahkonen dalam konferensi pers virtual Bank Dunia, Kamis (16/7).
"Jika ketiga asumsi yang digunakan berubah maka forecast berubah," lanjutnya.
Meski demikian, dia melanjutkan bahwa krisis saat ini mampu memberikan peluang dan tantangan bagi Indonesia. Menurutnya, saat inilah waktu yang tepat untuk kembali membangun Indonesia menjadi lebih baik.
Kahkonen menuturkan, ada tiga prioritas yang dapat dilakukan Indonesia untuk pemulihan ekonomi. Mulai dari menghilangkan hambatan investasi melalui RUU Omnibus Law, reformasi BUMN, hingga akselerasi kebijakan pajak.
"Tidak ada negara di dunia yang bisa capai pendapatan tinggi jika rasio pajaknya per PDB hanya 1 digit saja," katanya.
Meski demikian, Bank Dunia menilai Indonesia belum aman dari ancaman resesi. Dalam laporan proyeksi ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, Bank Dunia mengatakan, pemulihan ekonomi nasional akan tergantung pada kuartal III dan IV 2020.
Adapun dalam skenario terburuk, perekonomian Indonesia diperkirakan bisa minus 2 persen. Hal ini bisa terjadi jika ekonomi global memburuk dan Indonesia terkena gelombang kedua pandemi, yang menyebabkan pendapatan semakin tergerus.
"Ekonomi Indonesia dapat memasuki resesi jika keparahan terjadi kembali di kuartal III dan IV, dan/atau jika resesi global semakin parah dari yang diharapkan," tulis laporan tersebut.
