Bank Dunia Proyeksi Harga Minyak Mentah Brent Anjlok ke USD 52 per Barel di 2023

Bank Dunia memproyeksi perekonomian global akan kembali mengalami resesi di tahun depan. Selain itu, harga minyak mentah dunia Brent juga diperkirakan anjlok.
Dalam laporan "Apakah Resesi Global Sudah Dekat?" yang dirilis September 2022, Bank Dunia memproyeksi rata-rata harga minyak mentah Brent pada skenario dasar atau ketika situasi ekonomi normal sebesar USD 105 per barel di tahun ini, selanjutnya turun menjadi USD 98 per barel di 2023 dan kembali turun menjadi USD 88 per barel di 2024.
Sementara dalam skenario ekonomi mengalami penurunan tajam, rata-rata harga Brent turun menjadi USD 79 per barel di 2023 dan bisa kembali meningkat menjadi USD 85 per barel pada 2024.
Sedangkan dalam skenario ekonomi global mengalami resesi, rata-rata harga minyak Brent bisa anjlok menjadi USD 52 per barel di 2023 dan USD 74 per barel di 2024.
"Dalam skenario resesi global, harga minyak Brent akan rata-rata USD 52 per barel pada tahun 2023, lebih rendah dibandingkan dengan USD 98 pada skenario dasar. Harga minyak global akan cepat pulih pada tahun 2024, ketika ekonomi global berhasil keluar dari resesi, rata-rata harga minyak Brent USD 74 per barel selama setahun," tulis laporan tersebut seperti dikutip kumparan, Jumat (16/9).
Meski demikian, proyeksi rata-rata harga minyak mentah dunia tersebut masih lebih rendah dari skenario normal harga minyak mentah di 2024 sebesar USD 88 per barel.
"Perputaran besar harga minyak dalam skenario resesi global tersebut disebabkan oleh keterkaitan antara guncangan keuangan AS (global) dengan komoditas, seperti minyak. Hal ini juga mewakili permintaan yang tertekan akibat tekanan keuangan," tulisnya.
Adapun per hari ini, Jumat (16/9), seperti dikutip dari Reuters, harga minyak Brent turun 3,5 persen mencapai USD 90,84 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir 3,8 persen lebih rendah menjadi USD 85,10 per barel.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui bahwa kenaikan harga komoditas memberikan keuntungan bagi keuangan negara alias windfall profit, utamanya dari sisi penerimaan pajak. Namun menurutnya, 'berkah' ini mungkin tak lagi dirasakan di tahun depan.
Tahun ini, pemerintah memproyeksikan penerimaan pajak dari harga komoditas mencapai Rp 279 triliun. Menurutnya, tahun depan penerimaan tersebut tak akan setinggi tahun ini.
"Untuk pendapatan negara tahun depan memang ini menjadi salah satu yang perlu untuk kita perhatikan karena tahun ini windfall profit yang berasal dari komoditas sangat tinggi. Kita memproyeksikan dari sisi pajak kita mendapatkan Rp 279 triliun penerimaan pajak yang berasal dari komoditas, ini mungkin tidak akan berulang atau tidak akan setinggi ini untuk tahun depan," ujar Sri Mulyani usai rapat Sidang Kabinet, Senin (8/8).
Selain pajak, berkah harga komoditas yang tinggi juga terjadi pada penerimaan bea keluar, yang diproyeksi mencapai Rp 48,9 triliun di tahun ini. Menurut Menkeu, harga sejumlah komoditas yang tinggi di tahun ini juga tak akan terulang lagi di tahun depan.
Ia memproyeksi, harga minyak mentah tahun depan akan di kisaran USD 90 per barel, menurun dari tahun ini yang mencapai USD 95-100 per barel. Begitu juga dengan harga batu bara yang diprediksi melemah, dari USD 244 per ton di tahun ini menjadi USD 200 per ton di tahun depan.
****
Ikuti program Master Class Batch 3, 3 hari pelatihan intensif untuk para pelaku UMKM, gratis! Daftar sekarang di LINK INI.
