Kumparan Logo

Bank Indonesia: Kenaikan BI-Rate 25 Bps Bisa Pangkas Pertumbuhan Ekonomi 0,1%

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Shutterstock

Bank Indonesia (BI) memutuskan tidak menaikkan BI-Rate meski bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, untuk pertama kalinya setelah 3 tahun menaikkan suku bunga.

Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah bank sentral melakukan asesmen terhadap kondisi perekonomian nasional, termasuk ruang pertumbuhan yang masih tersedia.

Destry menjelaskan, ekonomi Indonesia saat ini masih bergerak di bawah level potensial. Kondisi tersebut tercermin dari output gap yang masih negatif, sehingga menurut BI masih terdapat ruang bagi pertumbuhan ekonomi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap inflasi.

“Karena kami juga melakukan assessment, bahwa ternyata ekonomi kita ini, masih bergerak di bawah potensial levelnya. Atau kita biasanya menyampaikan output gapnya masih negatif. Kalau dia masih negatif berarti, masih ada ruang untuk pertumbuhan ekonomi, tanpa mengakibatkan kerjanya inflasi,” kata Destry dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (28/9).

Menurut Destry, keputusan suku bunga BI tidak semata-mata mengikuti arah kebijakan The Fed. BI melakukan asesmen terhadap dampak setiap kebijakan terhadap perekonomian domestik, terutama karena stabilitas harga tetap menjadi anchor kebijakan moneter.

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Destry mengatakan kondisi inflasi saat ini masih berada dalam level yang nyaman. Core inflation juga masih berada di kisaran 2 persen.

Di sisi lain, BI menghitung kenaikan suku bunga dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan asesmen BI, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen.

“Anchor kami tetap melihat inflasi, karena begitu besar dampak inflasi, termasuk assessment kami juga melihat, kalau unit naik 25 basis point, maka pertumbuhan ekonomi akan turun sekitar 0,1 persen, itu dari assessment kami. Jadi artinya tidak ada faktor-faktor lain. Kalau unit naik 1 persen, kalau unit naik 25 basis point, jadi 0,25 persen, maka ekonomi growth itu akan turun 0,1 persen,” jelas Destry.

Destry pun memberikan ilustrasi, jika pertumbuhan ekonomi berada di level 5,4 persen, kenaikan suku bunga tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi turun menjadi sekitar 5,3 persen.

Sehingga BI memilih menggunakan kombinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas, sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui kebijakan yang lebih tertarget dibandingkan menaikkan suku bunga secara umum.

Destry mengatakan, BI memberikan insentif biaya hedging untuk mendorong masuknya aliran dana tanpa harus menaikkan suku bunga maupun suku bunga SRBI. Kebijakan tersebut telah mendorong aliran dana melalui DNDF maupun swap sekitar USD 6 miliar.

Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Menurut Destry, pendekatan tersebut diperlukan karena kenaikan suku bunga akan memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian. Sementara kebijakan yang lebih targeted memungkinkan BI memberikan stimulus pada bagian tertentu tanpa memberikan tekanan yang sama terhadap seluruh sektor ekonomi.

“Jadi kita berusaha mencari inovasi-inovasi kebijakan lain, supaya dampak itu tidak general terhadap ekonomi. Karena kalau menaikkan BI itu, dampaknya langsung kena semuanya,” tuturnya.

Destry menegaskan stabilitas tetap menjadi tujuan BI. Namun, dengan adanya mandat tambahan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, bank sentral perlu mengombinasikan berbagai instrumen kebijakan agar stabilitas tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi dapat terus didorong.