Bank Indonesia Luncurkan Kajian Sistem Keuangan, Begini Isinya
·waktu baca 3 menit

Bank Indonesia (BI) meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) Nomor 40 yang menjadi basis untuk implementasi kebijakan BI ke depannya. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan buku tersebut merupakan wujud dari komitmen kepada publik atas pelaksanaan tugas dan kewenangan dalam pengaturan dan pengawasan makroprudensial.
Perry Warjiyo mengungkapkan salah satu isi dari KSK itu adalah terkait stabilitas sistem keuangan Indonesia pada 2022 sampai Maret 2023 ketahanan ekonominya terpantau sangat kuat. Hal ini ditunjukkan dari selalu tersedianya kredit dan pembiayaan bagi pemulihan ekonomi nasional.
“Pembiayaan perbankan tahun 2022 tumbuh 11,35 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak pandemi COVID-19 dibandingkan tahun-tahun sejak pandemi COVID-19. Ketahanan juga tetap terjaga ditopang permodalan yang kuat likuiditas yang memadai dan juga risiko kredit yang terkendali," kata Perry saat peluncuran KSK No. 40 secara virtual, Rabu (10/5).
Selain itu, sistem keuangan Indonesia juga mampu bertahan dalam menghadapi dampak penutupan sejumlah bank di Amerika Serikat (AS) dan dari pengetatan pasar keuangan global.
"Selain sangat terbatasnya exposure langsung kepemilikan surat berharga dolar Amerika Serikat uji ketahanan, Bank Indonesia menunjukkan kuatnya perbankan Indonesia dalam menghadapi tekanan baik dari risiko likuiditas, risiko pasar dalam kenaikannya yield SBN dan volatilitas nilai tukar rupiah maupun risiko kredit karena rendahnya non performing loan," jelas Perry.
Selain itu, inklusi ekonomi dan keuangan juga terus meningkat sejalan dengan kinerja UMKM yang tumbuh positif. Perry terus mendorong industri perbankan yang terus meningkatkan intermediasi penyaluran pembiayaan untuk UMKM.
Lebih lanjut, Perry menegaskan BI akan konsisten menempuh kebijakan makroprudensial yang longgar. Hal ini dilakukan agar stabilitas sistem keuangan dan pemulihan ekonomi nasional akan tetap terjaga.
"Berkaitan ini kebijakan makroprudensial longgar kami harapkan untuk terus mendorong kredit dan pembiayaan perbankan bagi dunia usaha dan hal ini kami tingkatkan melalui pemberian insentif likuiditas ke bank-bank yang berkontribusi tinggi dalam penyaluran kredit kepada sektor prioritas termasuk UMKM inklusif dan hijau," ujar Perry.
Perry menuturkan kebijakan makroprudensial juga akan ditempuh melalui loan to value, countercyclical capital buffer, rasio pemberian inklusif makroprudensial, penyangga likuiditas makroprudensial, maupun transparansi suku bunga dasar kredit.
Stabilitas Sistem Keuangan Diproyeksi Tetap Terjaga
Bank Indonesia memproyeksikan stabilitas sistem keuangan akan tetap terjaga ke depannya, ditopang oleh permodalan dan likuiditas yang tinggi. Inklusi keuangan juga akan terus tumbuh termasuk pembiayaan kepada UMKM.
“KSSK dan seluruh otoritas sektor keuangan, serta para pelaku di sektor keuangan dan dunia usaha juga akan mendorong intermediasi yang seimbang, berkualitas dan berkelanjutan, sehingga diperkirakan tumbuh tinggi pada kisaran 10-12 persen year on year,” tutur Perry.
Meski begitu, Perry memastikan BI akan tetap mewaspadai sejumlah tantangan dan ketidakpastian pasar keuangan global, yang berpotensi mempengaruhi stabilitas sistem keuangan Indonesia.
