Bank Indonesia Prediksi Taper Tantrum Belum Terjadi di 2021

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan kebijakan Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih akan akomodatif di tahun ini.
Menurutnya, The Fed belum akan melakukan tapering off atau pengurangan pembelian obligasi di 2021.
Sebagai gambaran, pengurangan pembelian obligasi oleh The Fed (tapering off) pernah menimbulkan gejolak di pasar negara berkembang pada 2013, termasuk di Indonesia. Saat itu, The Fed menyatakan para pejabat mempertimbangkan untuk berhenti membeli aset. Hal ini seketika memicu gejolak pasar keuangan yang hebat secara global atau disebut dengan taper tantrum.
"Fed akan adopsi suku bunga rendah dan likuiditas longgar. Saya belum melihat dan tidak melihat adanya kemungkinan taper tantrum tahun ini, masih akan lama," kata Perry dalam webinar Early Year Forum 2021, Jumat (22/1).
Dia melanjutkan, tingkat akomodatif The Fed juga kemungkinan masih akan sama seperti tahun lalu. Hal ini lantaran pemulihan ekonomi akan bertahap.
Kebijakan akomodatif dari The Fed juga diperkirakan dilakukan oleh bank sentral di negara lainnya. "Bahkan di Bank Sentral Jepang likuiditas longgar sampai 2023," jelasnya.
Begitu juga dengan Indonesia. Perry menjelaskan, kebijakan BI akan tetap akomodatif demi mendorong pemulihan ekonomi.
BI juga akan mempertahankan suku bunga rendah dan likuiditas longgar hingga muncul tanda-tanda tekanan inflasi di Tanah Air. Seperti diketahui, inflasi selama 2020 hanya 1,68 persen atau terendah sepanjang sejarah Indonesia.
Dia pun optimistis pemulihan ekonomi global, termasuk Indonesia, bisa berlangsung di tahun ini. Kondisi pasar keuangan eksternal pun diperkirakan akan tetap terjaga.
