Kumparan Logo

Bank Indonesia Punya Kalkulator Hijau, Apa Fungsinya?

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pembiayaan hijau atau green financing. Salah satunya dengan menghadirkan aplikasi Kalkulator Hijau.

Dalam gelaran kumparan Green Initiative Conference (GIC) 2025, Direktur Grup Ekonomi dan Keuangan Inklusif BI, Rosita Dewi, mengungkapkan bahwa melalui aplikasi ini, masyarakat dapat menghitung penghematan emisi karbon dari aktivitas sehari-hari.

“Jadi, misalnya kalau kita naik angkutan umum instead bawa motor sendiri atau naik mobil sendiri, kita tuh bisa menghemat karbon berapa sih? Atau misalnya kita melakukan pemilahan sampah dengan baik instead semua dikumpulin. Nah nanti kita bisa menghitung dan nanti kita bisa tahu, oh kita menghemat emisi berapa,” kata Dewi dalam gelaran kumparan Green Initiative Conference (GIC) 2025, di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (18/9), .

Lalu, apa fungsi dari kalkulator hijau?

Berdasarkan pemaparan dari Bank Indonesia, Kalkulator Hijau yang berbentuk aplikasi ini hadir sebagai alat hitung emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang bisa diandalkan secara nasional.

Alat ini memberikan nilai tambah karena dirancang sesuai standar emisi nasional, sehingga hasil perhitungannya lebih akurat dan bisa dijadikan rujukan resmi dalam upaya pengendalian emisi.

Tak hanya untuk individu, Kalkulator Hijau juga dapat membantu bank dan debitur bank dalam menghitung emisi secara mudah dan gratis. Langkah ini sejalan dengan tujuan BI untuk menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Aplikasi ini lahir dari perhatian BI pada kondisi kurangnya kapasitas untuk mengukur emisi secara mandiri dan mahalnya biaya konsultan. Selain itu, BI juga melihat adanya permasalahan pengukuran emisi karbon oleh industri masih belum sesuai dengan standar nasional.

Reporter: Nur Pangesti

instagram embed