Kumparan Logo

Bank Indonesia: Tren Penerapan LCS dengan Mitra Dagang RI Terus Naik

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (20/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
zoom-in-whitePerbesar
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (20/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan tren penerapan kebijakan Local Currency Settlement (LCS) alias kesepakatan penggunaan mata uang lokal, dalam transaksi dengan sejumlah negara mitra terus meningkat. Kenaikan jumlah transaksi menggunakan acuan uang lokal ini terjadi dengan Malaysia, Thailand, Jepang, hingga China.

Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI), Doddy Zulverdi mengungkapkan, tren peningkatan tersebut mulai terasa terutama saat Jepang bergabung menjadi bagian negara mitra yang meneken kerja sama ini.

"Penggunaan LCS ini trennya naik, terutama dengan bergabungnya Jepang lonjakannya luar biasa. Secara relatif terhadap total perdagangan dengan masing-masing negara tersebut ini pun cukup menggembirakan," jelas Doddy dalam webinar yang digelar Infobank membahas dampak LCS, Kamis (23/9).

Fit and proper test Doddy Zulverdi. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Doddy merinci, untuk penerapan LCS dalam perdagangan antara Indonesia dengan Malaysia baru 1,4 persen pada tahun 2018. Angkanya kemudian naik menjadi 3,6 persen di tahun 2019, serta menjadi 4,1 persen tahun 2020.

Sedangkan sepanjang semester I 2021, porsi LCS dalam perdagangan Indonesia-Malaysia sudah mencapai 2,8 persen. Adapun penerapan LCS dalam transaksi dagang Indonesia dengan Thailand, juga mengalami tren positif tersebut. Tercatat peningkatan dari 0,6 persen di tahun 2018, kemudian 1,1 persen di 2019, dan menjadi 1,3 persen di 2020. Sedangkan untuk paruh pertama tahun ini, penggunaan LCS kedua negara sudah mencapai 0,8 persen.

Sementara untuk Jepang, tepat 3 bulan setelah disepakati pada tahun 2020, porsinya menyentuh angka 0,7 persen dari total perdagangan Indonesia.

"Di tahun 2021 ini, pada enam bulan pertama porsinya sudah 3,4 persen. kita bisa bayangkan kalau full year akan lebih besar lagi,” tutur Doddy.

Peningkatan ke depan ia proyeksikan akan lebih besar lagi. Mengingat China juga baru saja meneken kerja LCS, sehingga transaksi kedua negara bakal menggunakan rupiah dan yuan.

Doddy menilai, penerapan LCS ini akan punya banyak manfaat terutama bagi pelaku usaha ekspor dan impor. Biaya produksi akan lebih murah lantaran tak perlu konversi terlebih dahulu ke mata uang dolar buat bertransaksi.

Selain itu, transaksi menggunakan mata uang lokal ini, nantinya juga bisa digunakan untuk instrumen investasi hingga remitansi. LCS juga menjadi alternatif instrumen lindung nilai alias tersedianya hedging dalam mata uang lokal. Sehingga eksposur risiko bisa dengan biaya yang lebih efisien.

"Dalam LCS ini dimungkinkan kelebihan dana dari transaksi itu bisa ditempatkan dalam mata uang lokal dan tidak harus dolar, maka tentu saja alternatif instrumen penempatan investasi menjadi lebih luas," ungkap Doddy.