Kumparan Logo

Bank Indonesia Turunkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,5 Persen pada Mei 2025

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan keterangan pers terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (15/1/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan keterangan pers terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (15/1/2025). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 0,25 persen menjadi 5,5 persen pada bulan Mei 2025.

Selain itu, BI juga menurunkan suku bunga deposit facility sebesar 0,25 persen menjadi 4,75 persen dan lending facility sebesar 0,25 persen menjadi 6,25 persen.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20-21 Mei 2025 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 0,25 persen menjadi 5,5 persen," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers, Rabu (21/5).

Perry menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada tahun 2024 dan 2025. Serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ke depan, BI terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan dengan tetap memerhatikan prospek inflasi nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi.

Dampak Suku Bunga Turun

Turunnya suku bunga ini bisa memberi dampak terhadap berbagai sektor perekonomian. Penurunan suku bunga bisa membuat bunga pinjaman lebih rendah, sehingga mendorong masyarakat dan pelaku usaha mengambil kredit.

Kebijakan ini juga dapat mengerek konsumsi rumah tangga seperti KPR dan kredit kendaraan. Sementara dari sisi bisnis, dengan berkurangnya biaya modal, bisa mendorong perusahaan untuk berinvestasi.

Suku bunga rendah juga bisa mendorong aliran dana ke pasar saham lantaran investor mencari imbal hasil lebih tinggi. Harga obligasi juga cenderung naik saat suku bunga turun.

Penurunan suku bunga juga menjadi bagian dari kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi saat terjadi perlambatan.