Bank Indonesia Waspadai Shutdown AS Berdampak ke Pasar Keuangan RI
ยทwaktu baca 2 menit

Bank Indonesia (BI) mewaspadai efek rambatan government shutdown alias penutupan pemerintah yang terjadi di Amerika Serikat (AS), terhadap pasar keuangan global dan Indonesia.
Government shutdown merupakan kondisi berhentinya sebagian besar layanan federal AS karena Kongres (DPR dan Senat) gagal meloloskan undang-undang anggaran, sebelum tahun fiskal berakhir pada 30 September. Pada tingkat DPR, UU itu sukses, namun terhambat di level Senat.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, mengatakan government shutdown di AS termasuk dalam salah satu bukti bahwa ketidakpastian global saat ini masih tinggi.
"Kalau shutdown terjadi, dampaknya bisa ke defisit fiskal yang lebih besar, lalu berpengaruh ke ekspektasi yield (imbal hasil), tingkat pengangguran (unemployment), dan persepsi pasar," jelasnya saat Media Gathering di Bukittinggi, Jumat (24/10).
Juli menjelaskan, ketika angka pengangguran naik, bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) akan merespons dengan penurunan suku bunga, yang akan berefek pada pasar keuangan global.
"Dampaknya akan menular ke pasar keuangan global, termasuk ke Indonesia, melalui kurs dan instrumen lainnya. Jadi ketidakpastian bisa muncul dari kondisi fiskal AS, tapi respons kebijakan moneter AS juga ikut berpengaruh," jelasnya.
Ekonom Bahana TCW Investment Management, Emil Muhammad, melihat keputusan government shutdown belum berpengaruh pada pasar keuangan, di mana pemerintah AS tetap menjalankan fungsi-fungsi krusialnya dalam membayar bunga utang agar tidak mengalami penurunan peringkat kredit.
"Jadi untuk shutdown so far kita belum melihat dampaknya dan kalaupun akan ada dampak terhadap Indonesia itu arahannya adalah pasti dari pasar Amerika dulu yang bergejojak," jelas Emil.
Di sisi lain, Emil melihat salah satu indeks saham AS, Dow Jones industrial, mengalami penguatan hingga mendekati rekor all time high. Selain itu, pasar obligasi AS juga masih sangat kuat.
"Tidak ada pergerakan signifikan dalam dolar index, volatility index juga terjaga, jadi menurut kami dampak rambatan ke Indonesia harusnya minim karena bahkan di pasar AS sendiri dampaknya bisa dikatakan minim," imbuhnya.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump membekukan anggaran sebesar USD 26 miliar (setara Rp 432 triliun) untuk negara-negara bagian yang condong ke Partai Demokrat. "Miliaran dolar dapat dihemat," kata Trump dalam unggahannya di Truth Social, dikutip dari Reuters, Kamis (2/10).
Trump sebelumnya mengancam akan memanfaatkan government shutdown untuk menargetkan program prioritas Demokrat. Program yang disasar di antaranya USD 18 miliar untuk proyek transportasi di New York dan USD 8 miliar untuk proyek energi hijau di 16 negara bagian yang dikuasai Demokrat, termasuk California dan Illinois.
