Bank Mau Kasih DP KPR DP 0 Persen, Tapi Ada Syarat Buat Pengembang Properti

Bank Indonesia melonggarkan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) kredit properti hingga 100 persen, sehingga memungkinkan perbankan menyalurkan KPR DP 0 persen.
Adapun beleid ini berlaku mulai 1 Maret hingga 31 Desember 2021. Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor properti.
Namun, kebijakan ini dapat menjadi beban bagi perbankan. Sebab, adanya DP 0 persen akan membuat cicilan makin tinggi, sehingga perbankan khawatir terjadinya kredit macet.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, mengatakan saat ini perekonomian sedang lesu. Menurut dia, DP 0 persen malah akan merugikan nasabah ke depannya karena potensi macet angsuran.
"Yang kami tidak inginkan, kita beri DP 0 persen itu mereka bilang langsung bisa, tapi dosisnya melebihi kemampuan sehingga merugikan nasabah," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (26/2).
Ia menambahkan, kebijakan DP 0 persen ini perlu mendapat jaminan dari pengembang properti. Sehingga pada saat terjadi kredit macet pengembang dapat melakukan buyback kembali properti yang bermasalah tersebut.
"Ini kita (bank) juga perlu jaminan dari developer. Developer juga harus ada kasih jaminan buyback. Tapi dengan ada jaminan buyback banyak developer enggak mau. Jadi kita harus liat situasi dan kondisi," tutupnya.
Secara terpisah, Real Estate Indonesia (REI) menyatakan bahwa kebijakan KPR DP 0 persen ini dapat dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengakui jika setiap daerah memiliki daya beli yang berbeda, hanya bisa diterapkan di daerah tertentu.
“Kalau DP 0 persen itu kan otomatis angsurannya lebih besar. Jadi itu bisa berlaku di beberapa daerah misal Batam,” ungkapnya kepada kumparan, Sabtu (27/2).
Ia juga meminta adanya kesinambungan antar instansi dalam merealisasikan pemulihan sektor properti. Menurutnya untuk memulihkan sektor properti tidak bisa hanya dengan kebijakan DP 0 persen.
“Jadi ini harus sinergitas dari semua sisi, kan tidak bisa cuman satu sisi. Nah berbagai sisi kolaborasi untuk membangkitkan ekonomi nasional,” jelas Totok.
