Kumparan Logo

Bansos Rp 300 Ribu Bisa Buat Apa? Ini Kata Pekerja Mal hingga Hotel Korban PHK

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga menunjukkan uang Bantuan Sosial Tunai (BST) yang diperolehnya. Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono
zoom-in-whitePerbesar
Warga menunjukkan uang Bantuan Sosial Tunai (BST) yang diperolehnya. Foto: ANTARA FOTO/Didik Suhartono

Sudah hampir setahun Rino (28 tahun) memutuskan berangkat ke pasar dan mengerjakan apapun yang ia bisa. Harapannya cuma satu, bisa membawa pulang uang untuk memenuhi asupan gizi anaknya yang baru berusia satu setengah tahun.

Dulunya, Rino bekerja sebagai karyawan pengantar makanan di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta. Merebaknya pandemi COVID-19 membuatnya terpaksa menerima keputusan PHK dari perusahaan.

kumparan post embed

Bekal voucher belanja yang diberikan perusahaan selama beberapa bulan sebagai pesangon, tak cukup memenuhi kebutuhannya bersama anak dan istri. Alhasil, pemuda Pancoran Mas Depok itu mulai mencoba peruntungan sebagai sales untuk barang dagangan apapun di pasaran.

Pemerintah memang menggelontorkan berbagai bantuan sebagai jaring pengaman sosial selama merebaknya virus corona ini. Mulai dari bansos tunai Rp 300 ribu, hingga Program Keluarga Harapan (PKH).

Sayangnya, berbagai stimulus tersebut tak pernah sampai kepada keluarga Rino. Kendati angka tersebut tak seberapa, ia merasa bantuan ini bisa setidaknya sedikit meringankan beban.

Suasana sepi di salah satu Mal di Jakarta, Senin (5/7/2021) saat PPKM Darurat diterapkan. Foto: M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO

"Belum pernah sama sekali dapat bantuan. Tapi kalau saya dapat alhamdulillah lumayan juga buat bantu, saya kontrakan bayar Rp 500 ribu sebulan," ujar Rino kepada kumparan, Rabu (7/7).

Senada dengan Rino, Nisah (28 tahun) yang juga tak tersentuh bantuan, mengatakan uang Rp 300 ribu itu merupakan nominal yang akan sangat membantunya bertahan hidup. Meskipun itu harus dengan jurus paling hemat yang ia bisa.

kumparan post embed

Nisah sendiri merupakan pekerja di pusat perbelanjaan yang baru saja kena PHK. Kontrak kerjanya tak lagi diperpanjang bertepatan dengan diumumkannya kebijakan PPKM Darurat.

Nasibnya menjadi kian sulit lantaran sang suami yang bekerja sebagai sopir di sektor pariwisata, juga dirumahkan pada saat bersamaan.

Bila ia mendapatkan bantuan Rp 300 ribu tersebut, kebutuhan utama yang akan ia penuhi adalah beras. Sementara untuk lauk, Nisah dan suami tak akan banyak pilih jika uang itu harus mampu membuat mereka bertahan satu bulan.

"Bisa dicukupkan satu bulan, paling beli beras, telur, mi instan, karena kita kan masih berdua belum ada tanggungan. Kalau kontrakan memang enggak cukup, karena Rp 650 ribu sebulan," kata Nisah kepada kumparan.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, suaminya bekerja sebagai pencari cacing untuk makanan ikan hias. Dengan usaha tersebut, paling tidak masih bisa membawa pulang hingga Rp 50 ribu untuk biaya makan mereka berdua.

Pedagang melayani pembeli di Warteg Subsidi Bahari kawasan Jalan Fatmawati, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir

Nisah sendiri selalu gagal mendapatkan bantuan lantaran terganjal administrasi. Ia masih menggunakan Kartu Keluarga kedua orang tuanya yang sudah meninggal.

Berbeda dengan mereka, Rosna (51 tahun) mengaku mendapatkan bansos tunai. Uang Rp 300 ribu tersebut, kata Rosna paling tidak bisa menambal biaya listrik.

Dengan diskon 50 persen listrik 900 VA, tagihan yang mesti dibayarkan berkisar antara Rp 50.000 sampai Rp 100.00 per bulan.

"Kalau untuk kebutuhan dapur, itu sehari bisa Rp 50 ribu," tutur perempuan yang bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu klinik di Padang itu.

Bila dihitung untuk kebutuhan makan saja, Ketua Koordinator Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni, menilai uang tersebut mustahil bisa memenuhi kebutuhan hidup satu orang dalam satu bulan.

Ia menghitung dengan menu paling biasa di warteg saja, dengan kalkulasi Rp 10 ribu sekali makan, uang tersebut hanya cukup untuk makan berdua selama 10 hari.

"Yang makan di warteg kan paling banyak menengah ke bawah ya, kalau dikali sekali makan dengan lauk tanpa daging, katakanlah Rp 10 ribu, kalau dia sendiri dan makan sekali baru bisa tahan sebulan," pungkas Mukroni kepada kumparan.