Banyak Pengangguran Muda Lulusan SMK di Kota, Faisal Basri Beberkan Bahayanya
·waktu baca 2 menit

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran tembus 8,75 juta orang pada Februari 2021. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2021 tercatat sebesar 6,26 persen. Adapun TPT ini mengalami kenaikan sejak pandemi COVID-19. Yaitu dari 5,1 persen di 2019 naik menjadi 6 persen di 2020 dan kini 6,26 persen di 2021.
Mirisnya jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, persentase terbanyak pengangguran merupakan angkatan kerja tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
“Persentase menganggur itu terbesar tamatan SMK. Pusing enggak tuh,” ujar Ekonom Faisal Basri dalam dalam Integrity Constitutional Discussion, Kamis (12/8).
Menurut Faisal, pada Februari 2020, dari total jumlah pengangguran, sebanyak 8,4 persennya merupakan tamatan SMK. Di Februari 2021, besaran tersebut naik menjadi 11,5 persen.
Sementara itu, pada Februari 2020, dari total jumlah pengangguran, sebanyak 6,7 persennya merupakan tamatan SMA. Di Februari 2021 persentasenya naik menjadi 8,6 persen.
Begitu juga dengan pengangguran bergelar sarjana atau tamatan perguruan tinggi, persentasenya juga naik dari 5,7 persen pada Februari 2020 menjadi 7,0 persen di Februari 2021. Hanya tamatan Diploma I II III yang menunjukkan penurunan dari 6,7 persen di 2020 menjadi 6,6 persen di 2021. Sedangkan pengangguran tamatan SMP juga naik dari 5,0 persen ke 5,9 persen. Begitu juga pengangguran tamatan SD naik dari 2,6 persen ke 3,1 persen.
“Berarti semakin banyak yang nganggur ini adalah tamatan yang lebih tinggi, yang lebih berpendidikan,” ujarnya.
Menurut Faisal, di masa pandemi ini pekerjaan yang terhempas dari pasar kerja adalah pekerja yang berketerampilan atau berpendidikan relatif tinggi. Mulai dari SMA, SMK, diploma hingga universitas.
Sementara jika dilihat persebarannya, pengangguran paling tinggi terjadi di perkotaan. Naik dari 6,12 persen pada Februari 2020 menjadi 8,98 persen pada Februari 2021. Sementara pengangguran di desa juga naik tipis dari 3,49 persen ke 4,71 persen.
Selain itu dilihat dari usia, angka pengangguran tertinggi terjadi pada angkatan kerja usia muda antara 15-24 tahun, naik dari 16,31 persen ke 18,03 persen. Sedangkan angkatan kerja usia 25-59 tahun naik dari 3,14 persen ke 4,57 persen. Sementara usia di atas 60 tahun juga naik tipis dari 1,07 persen menjadi ke 1,29 persen.
“Kesimpulannya paling banyak pengangguran itu berpendidikan tinggi, tinggal di kota dan usia muda,” ujar Faisal.
Menurut Faisal, kondisi ini harus diwaspadai pemerintah karena bisa menciptakan tekanan sosial yang tinggi. Sebab pengangguran saat didominasi oleh generasi muda yang lebih artikulatif terhadap aspirasi mereka. Faisal mendesak Kementerian Ketenagakerjaan agar menyiapkan kebijakan yang tepat untuk menangani kondisi tersebut.
“Ini bisa berpotensi memicu tekanan sosial yang lebih tinggi karena mereka aspirasinya artikulatif sekali, mereka punya energi. Karena itulah Kemenaker perlu ada semacam special policies karena ini sumber stabilitas politik yang sangat potensial,” tandasnya.
