Kumparan Logo

Banyak Tekanan, Smartfren Akui Buka Opsi Merger dengan XL dan Indosat

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kantor pusat Smartfren di Jalan Sabang, Jakarta. Foto: Aditya Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kantor pusat Smartfren di Jalan Sabang, Jakarta. Foto: Aditya Panji/kumparan

PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) membuka opsi penggabungan usaha atau merger dengan perusahaan telekomunikasi lainnya. Berbagai tekanan dalam perubahan teknologi komunikasi dikatakan menjadi pemicu turunnya pelanggan FREN. Hal ini, mau atau tidak, membuat perseroan membuka pilihan untuk merger.

Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengaku, membuka opsi merger dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT).

"Para pengguna kami menurun yang juga berdampak pada perseroan. Karena itu, kami dan pemerintah adakan konsolidasi jalan keluar dan lakukan efisien. Memang banyak pembicaraan soal merger, kemarin dengan XL dan Indosat. Ini semua kemungkinan bisa terjadi, dan memang disadari jalan keluar efisiensinya ini," kata Merza saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (20/2).

Menurut Merza, pihaknya tengah menunggu keputusan lebih lanjut terhadap rencana merger ini. Pemerintah sejak awal, lanjutnya, menyarankan agar hanya terdapat 3 industri telekomunikasi di Indonesia.

PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) saat menggelar konferensi pers. Foto: Elsa Olivia Karina L Toruan/kumparan

"Masalah yang dihadapi industri telekomunikasi ini memang pelik, berulang kali pemerintah mengatakan kalau industri telekomunikasi akan lebih sehat kalau hanya ada 3 perusahaan saja. Namun kita juga masih menunggu nanti keputusannya seperti apa," jelasnya.

Adapun beberapa tekanan yang dihadapi oleh pihaknya adalah perubahan teknologi, masuknya layanan 4G di Indonesia, hingga berubahnya pola konsumsi masyarakat dalam berkomunikasi. Masuknya layanan 4G ke dalam negeri, diakui Merza, membuat seluruh pelaku industri telekomunikasi harus ikut dan menyiapkan belanja modal (capex) yang besar.

"Capex di era 4G itu bukan main besarnya. Lalu juga, kegemaran masyarakat dalam berkomunikasi yang lebih menyukai gunakan aplikasi ketimbang telepon dan pesan singkat (SMS), itu juga membuat kinerja telekomunikasi menurun," ujarnya.

Saat ini, pengguna FREN tercatat turun sebanyak 2,3 juta pelanggan menjadi 10,3 juta per September 2018. Di periode yang sama pada tahun lalu, pengguna FREN tercatat sekitar 12,6 juta pelanggan.