Kumparan Logo

BBM Premium Bakal Dihapus, Bos Pertamina Ingin Masyarakat Pakai Energi Bersih

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Illustrasi BBM Premium. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Illustrasi BBM Premium. Foto: Istimewa

Bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Pertalite tak akan kita jumpai lagi di masa mendatang. Pemerintah mau menghapus kedua bahan bakar yang menjadi penyumbang emisi cukup besar tersebut.

PT Pertamina (Persero) selaku BUMN yang mengurusi energi, kini tengah menyusun skenario transisi dari energi kotor menuju energi bersih. Langkah tersebut dimulai dengan menghapus RON 88 alias Premium. Bensin yang paling banyak digunakan masyarakat tersebut, akan digantikan oleh Pertalite alias RON 90.

Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Subholding Pertamina Commercial & Trading, Irto Ginting, mengatakan bahwa saat ini masyarakat sudah mulai sadar untuk menggunakan BBM yang berkualitas lebih baik.

“Keputusan penghapusan Premium merupakan kewenangan pemerintah. Saat ini masyarakat sudah mulai sadar dan menggunakan BBM berkualitas atau BBM yang sesuai dengan spek kendaraannya,” kata Irto pada kumparan, Minggu (26/12).

Nantinya, secara perlahan-lahan bahkan Pertalite juga bakalan dihapuskan. Bahan bakar jenis ini bakal digantikan Pertamax.

Bos Pertamina Ingin Masyarakat Pakai Energi Bersih

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menegaskan hingga saat ini, BBM Premium dan Pertalite masih ada dijual. Menurut dia, penghapusan itu tidak dilakukan hari ini karena ada tahapan yang harus dilalui.

"Tetapi tidak ada kebijakan hari ini yang untuk menghapuskan Pertalite. Itu tidak ada," kata Nicke ketika diwawancarai di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Selasa (28/12).

Dirut Pertamina Nicke Widyawati memberikan sambutan di acara Pertamina Muda Seed & Scale Up. Foto: Dok. Pertamina

Nicke menjelaskan, berdasarkan Peraturan Menteri KLHK Tahun 2017, ada ketentuan harus menggunakan BBM yang RON minimal 91 untuk mengurangi karbon emisi dari kendaraan yang minum BBM di bawah RON tersebut seperti Premium RON 88 dan Pertalite RON 90.

"Jadi Pertalite ini masih ada di pasar, jadi silakan (beli). Tapi kami mendorong agar menggunakan yang lebih baik yaitu Pertamax supaya kita bisa memberikan kontribusi terhadap penurunan karbon emisi di Indonesia," ujar dia.

DPR Buka Suara

Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Golkar, Mukhtarudin, mengatakan bahwa target pengurangan emisi karbon tersebut harus dipikirkan secara komprehensif. Apalagi, saat ini daya beli masyarakat masih melemah akibat pandemi.

"Di satu sisi memang kita ke depannya harus mengurangi emisi untuk selamatkan lingkungan, tapi di sisi lain kita juga harus arif dan bijaksana melihatnya, terutama terkait dengan daya beli masyarakat," ujar Mukhtarudin.

Dia menjelaskan, program tersebut seharusnya terintegrasi dengan aspek lain yang mempengaruhi, seperti tingkat kesejahteraan masyarakat. Selain itu, Mukhtarudin saat ini konsumsi masyarakat terhadap BBM Premium dan Pertalite juga masih tinggi.

"Terkecuali memang ada tren dari tahun ke tahun pengguna Premium dan Pertalite itu menurun, artinya masyarakat sudah beralih ke BBM RON di atas 90 yang sudah ramah lingkungan. Tapi sekarang kan BBM premium dan pertalite masih dibutuhkan," jelasnya.

Untuk itu, Mukhtarudin mendorong pemerintah untuk bijak mengenai rencana menghapus BBM Premium dan Pertalite tersebut. Ia pun menyebut Komisi VII akan memberikan masukan kepada Kementerian ESDM terkait rencana tersebut.

"Kan Perpres juga masih dalam proses. Mudah mudahan Presiden bisa melihat ini secara komprehensif, tidak saja hanya dilihat dari target pengurangan emisi karbon, tapi juga dampaknya kepada masyarakat harus juga jadi pertimbangan, serta mempertimbangkan timing yang tepat untuk menerapkan kebijakan tersebut," pungkasnya.