Kumparan Logo

BCA Catat Dana Kelolaan Reksadana Tumbuh 50 Persen

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Managing Director of Consumer Banking BCA Haryanto T. Budiman di acara BCA Expo 2026 di ICE BSD, Tangerang, Jumat (11/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Managing Director of Consumer Banking BCA Haryanto T. Budiman di acara BCA Expo 2026 di ICE BSD, Tangerang, Jumat (11/9/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mencatat dana kelolaan reksadana (mutual funds) meningkat pesat hingga 50 persen dalam satu tahun, di tengah menurunnya tren industri secara keseluruhan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2026, dana kelolaan industri reksadana menyusut Rp 40,17 triliun menjadi Rp 672,9 triliun dibandingkan posisi akhir tahun 2025.

Direktur BCA, Haryanto T. Budiman, mengatakan perkembangan bisnis wealth management perusahaan bergerak baik, dengan nilai Asset Under Management (AUM) tumbuh dari Rp 139 triliun pada 2022, menjadi Rp 339 triliun pada Juni 2026. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 15-16 persen.

"Tapi kalau kita lihat yang menarik adalah reksadana, naiknya 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini yang menjadi fokus kita sebenarnya. Kalau dulu orang masuk investment hanya government bond, sekarang pertumbuhan reksadana lebih kencang," ungkap Haryanto saat konferensi pers Runvestasi 2026, Rabu (14/10).

Kendati proporsi investasi pada obligasi pemerintah atau government bond di BCA masih lebih besar hingga saat ini, Haryanto menilai perkembangan reksadana yang pesat menjadi penanda naiknya kepedulian masyarakat terhadap produk investasi.

Gedung BCA. Foto: Shutterstock

Ia berharap masyarakat bisa mengakses kemudahan investasi melalui aplikas MyBCA. Nasabah sudah bisa berinvestasi di reksadana MyBCA mulai dari Rp 10.000, sementara obligasi pemerintah minimal Rp 1 juta.

"Jadi kita memberikan kemudahan juga melalui platform digital kita yaitu MyBCA," tegas Haryanto.

EVP Wealth Management BCA, Indrawan, menjelaskan produk investasi paling diminati nasabah di aplikasi MyBCA yakni obligasi, sementara khusus untuk produk reksadana yang paling favorit yakni pasar uang (money market).

"Jadi kalau kita bicara itu ada pasar uang, fixed income, campuran, dan equity saham, tentu makin ke kanan ini fluktuasinya makin tinggi, nah yang paling rendah resikonya adalah pasar uang dan ini cocok dengan nasional myBCA yang cenderung konservatif," jelasnya.

Indrawan membenarkan dana kelolaan reksadana memang cenderung menurun secara industri. Hal ini seiring dengan melemahnya ekuitas perusahaan yang cukup dalam, salah satunya terlihat dari kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merah akhir-akhir ini.

"Penyebabnya macam-macam, karena salah satunya adalah equity kita kan juga turunnya cukup dalam ya, di IHSG kan cukup dalam turunnya, dan tentunya di reksadana yang based on equity itu tentu juga turun, secara nilai juga turun semua," ungkapnya.

Sama halnya dengan investasi pendapatan tetap (fixed income) seperti obligasi, Indrawan melihat ada kecenderungan penurunan, terutama terlihat dari obligasi korporasi atau surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta maupun BUMN.

Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak terlihat pada tren bisnis wealth management di BCA, terutama dari sisi pengelolaan dana reksadana yang terus bertumbuh dalam setahun ke belakang.

"Kalau di BCA, syukur banget, kita bersyukur sekali, kita masih tumbuh, sama dengan kemarin kita tumbuh bahkan cukup signifikan, 50 persen, itu hampir sebagian besar ditopang dari money market," tutur Indrawan.

Indrawan memaparkan kalau investasi pasar uang sedang menjadi primadona karena dapat memberikan keuntungan yang lebih baik bagi nasabah dibandingkan produk investasi konservatif lainnya seperti deposito, sementara risikonya masih sangat terukur karena mayoritas berisi obligasi pemerintah.

"Jadi memang perkembangan kalau di industri sendiri sebenarnya money market juga naik, cuman mungkin secara overall turun karena yang tiga lainnya ini agak sedikit ketarik, turun angka-angkanya," terang Indrawan.