BCA: Debitur Antisipasi Lonjakan Energi, Sektor Plastik Terdampak Perang di Iran
·waktu baca 2 menit

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memastikan para debitur korporasi telah pasang kuda-kuda untuk mengantisipasi lonjakan harga energi dan komoditas akibat ketidakpastian geopolitik imbas perang AS–Israel dengan Iran. Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, mengatakan kenaikan harga komoditas bukan hal yang datang tiba-tiba, melainkan sudah diantisipasi oleh nasabah korporasi perseroan. “Ya, tentu saja para nasabah kita, para debitur-debitur kita ini juga sudah pasang kuda-kuda. Ya, sudah pasang kuda-kuda,” kata John dalam konferensi pers Kinerja BCA Kuartal I 2026 secara daring, Kamis (23/4). John juga memastikan BCA akan terus melakukan koordinasi intensif untuk memastikan risiko tetap terjaga. “Jadi tentu saja kita bersama dengan para nasabah ini terus melakukan koordinasi dengan baik dengan mereka agar bisa menjaga antisipasi terhadap berbagai kemungkinan risiko yang terjadi,” jelasnya.
Akui Debitur Sektor Plastik Terdampak Perang
Meski demikian, John mengakui dampak perang mulai terasa di sektor tertentu, salah satunya industri plastik yang terdampak kenaikan harga bahan baku. “Ini tentu saja adalah sektor yang terkait dengan plastik, ya, karena memang harga plastik materialnya juga mulai mengalami peningkatan,” katanya. BCA dalam hal ini mengambil langkah antisipatif dengan terus memantau kondisi debitur serta meminta penjelasan terkait strategi mitigasi yang dilakukan masing-masing nasabah. “Selama ini kalau kita perhatikan, so far masih tetap terjaga dengan baik risikonya. Para nasabah ini masih tetap menjalankan usaha dengan baik dan kita akan terus memonitor kondisinya,” jelasnya.
Pelemahan Rupiah Tak Signifikan ke Portofolio Kredit Valas
Selain tekanan komoditas, John menuturkan BCA juga mencermati pelemahan rupiah. Namun, John memastikan dampaknya relatif terbatas karena porsi kredit valas hanya sekitar 4,9 persen dari total portofolio. “Jadi kecil sekali saat ini dan kondisinya masih terjaga dengan baik. Jadi apabila terjadi pelemahan rupiah, ya, tentu saja dampaknya pun juga tidak signifikan,” ujarnya. Mengutip Bloomberg, rupiah melemah ke level Rp 17.286 per dolar Amerika Serikat (AS) per pukul 03.59 AM EDT atau sekitar 14.59 WIB pada perdagangan hari ini. Posisi ini turun 105 poin atau 0,61 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
