kumparan
17 Agustus 2019 16:32

BCA Siap Kerja Sama dengan WeChat dan Alipay di 2020

Bank Central Asia
Bank central Asia (BCA). Foto: Reuters/Garry Lotulung
PT Bank Central Asia (BCA) Tbk menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan penyelenggara jasa sistem pembayaran asal China, WeChat dan Alipay.
ADVERTISEMENT
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan proses penjajakan lebih lanjut dengan WeChat dan Alipay. Dia berharap, kerja sama dengan keduanya bisa mulai dilakukan pada awal tahun depan.
"WeChat Alipay, kita kalau sistem kita selesai, nanti kita kulonuwon dulu ke BI. Mudah-mudahan tahun depan kerja sama dengan WeChat dan Alipay," ujar Jahja di Gedung BI, Jakarta, Sabtu (17/8).
Saat ini, WeChat dan Alipay belum mendapatkan izin dari bank sentral sebagai otoritas sistem pembayaran. Jika keduanya mau masuk ke Indonesia, harus menaati aturan dari BI, yakni bekerja sama dengan bank BUKU IV dan tunduk pada standar respons cepat Indonesia (QRIS).
Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) Nomor 20/21/PADG/2018 tentang Laporan Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu dan Uang Elektronik (Electronic Money) oleh Bank Perkreditan Rakyat dan Lembaga Selain Bank.
Pemaparan kinerja keuangan BCA Semester I 2019, Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) DE Setijoso, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat memaparkan kinerja keuangan BCA Semester I 2019 . Foto: Helmi Afandi Abdullah/
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta menuturkan, sebenarnya hingga saat ini sudah ada tiga bank BUKU IV yang tertarik untuk bekerja sama dengan WeChat dan Alipay. Salah satunya termasuk BCA.
ADVERTISEMENT
"Ada tiga bank yang akan kerja sama WeChat dan Alipay. Sisanya dua tadi, nanti saja kalau prosesnya sudah beres. Pokoknya bank BUKU IV, di aturannya seperti itu," kata dia.
WeChat, Alipay, maupun penyelenggara jasa sistem pembayaran asing lainnya memang wajib menggandeng bank BUKU IV di Indonesia. Sebab nantinya sumber dana untuk melakukan transaksi melalui QR Code juga berasal dari debit, tabungan, dan kartu kredit.
"Kalau sekarang ada ketentuan dia sumber dana dari uang elektronik. QRIS ini nanti sumber dananya bukan hanya dari uang elektronik, tapi bisa juga debit, tabungan. Makanya di ketentuan yang baru kita sempurnakan sumber dananya penyelenggara sistem pembayaran asing kerja sama dengan bank BUKU IV," tambahnya.
ADVERTISEMENT
BCA Tak Khawatir QR Code Saingi Kartu
BCA mengaku tak khawatir nantinya pembayaran melalui respons cepat atau QR Code akan mengalahkan transaksi dengan kartu.
Apalagi saat ini BI telah meluncurkan standar QR Code Indonesia atau QR Code Indonesian Standard (QRIS), yang lebih menguntungkan pedagang (merchant) dibandingkan transaksi menggunakan kartu.
Direktur BCA Santoso mengatakan, ke depan tren pembayaran adalah menggunakan handphone. Sehingga dia mengakui, penggunaan kartu akan semakin menurun.
"Kami berharap dengan QRIS ini, transaksinya boleh menurun sedikit, artinya ticket size-nya," ujar Santoso.
Peluncuran Paspor BCA Mastercard
Paspor BCA Mastercard Foto: Puti Cinintya Arie Safitri/kumparan
Meski jumlah kartu diprediksi menurun, namun Santoso meyakini nilai transaksinya akan jauh lebih besar dibandingkan penggunaan QR Code.
"Dengan kemudahan-kemudahan, kami berharap meski ticket size kecil, namun akan menggunakan sistem pembayaran. Artinya ke depan, yang namanya debit card itu diharapkan tetap akan terjadi, transaksi ada kenaikan, secara jumlah transaksi, tapi ticket size-nya mungkin kecil," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Adapun saat ini, transaksi pembayaran menggunakan kartu debit BCA secara nasional mencapai 70 persen, sisanya kartu kredit dan transaksi lainnya.
"Yang penting ada tren teknologinya. Sumber uang akan tetap dari debit, tapi alatnya tidak lagi kartu, tapi menggunakan self phone," tambahnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan