Kumparan Logo

Beban Pajak Naik, Indofarma Rugi Rp 37,57 Miliar pada 2021

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
7
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri BUMN Erick Thohir meninjau pabrik Indofarma ditemani Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto, Senin (21/6).  Foto: Indofarma
zoom-in-whitePerbesar
Menteri BUMN Erick Thohir meninjau pabrik Indofarma ditemani Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto, Senin (21/6). Foto: Indofarma

PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 37,57 miliar di tahun 2021. Hal ini lantaran Indofarma membukukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan beban pajak yang berdampak terhadap tergerusnya laba bersih perseroan menjadi rugi.

Utang pajak Indofarma tercatat mencapai Rp 194,5 miliar di 2021, naik 98 persen dibandingkan utang pajak 2020 Rp 98,1 miliar.

Adapun secara konsolidasian, Indofarma berhasil mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 2,90 triliun, meningkat sebesar Rp 1,19 triliun atau 69,15 persen dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp 1,72 triliun.

Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto mengatakan peningkatan penjualan bersih masih didominasi dari penjualan produk yang berhubungan dengan COVID-19 baik untuk segmen alat kesehatan, obat-obatan, dan pengadaan serta distribusi penugasan vaksin COVID-19, Covovax.

"Neraca Keuangan Konsolidasian Indofarma tahun 2021 mencatatkan pertumbuhan jumlah aset baik aset lancar dan tidak lancar sebesar 17,42 persen dibandingkan tahun 2020, dengan nilai sebesar Rp 2,01 triliun dibandingkan Rp 1,71 triliun di tahun 2020," kata Arief saat paparan publik, Selasa (31/5).

Sementara itu, jumlah ekuitas Perseroan juga mencatatkan kenaikan sebesar Rp 508,31 miliar, naik sebesar 18,12 persen dibandingkan tahun 2020 dengan nilai sebesar Rp 430,33 miliar.

Dari sisi pengendalian biaya, beban pokok penjualan perseroan mengalami kenaikan 86,34 persen sejalan dengan peningkatan penjualan dibandingkan tahun 2020. Laba bruto tahun 2021 meningkat sebesar 12,74 persen dari Rp 400,60 miliar di tahun 2020 menjadi Rp 451,65 miliar.

Secara operasional, perseroan telah berhasil meningkatkan kinerja sehingga mampu mendapatkan EBITDA Rp 184,56 miliar di tahun 2021 dibandingkan EBITDA tahun 2020 sebesar Rp 164,40 miliar atau tumbuh sebesar 12,26 persen.

Sepanjang tahun 2021, Indofarma berupaya untuk menangkap peluang bisnis demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Strategi penguatan kinerja yang akan dilakukan Perseroan berfokus pada High-Performance Enterprises, Sales Portofolio Strategy, Product Portfolio Strategy, Supply Chain Management, Cash Flow Management, Human Capital Development, Business Process Alignment, dan Discipline of Execution.

Obat Ivermectin 12 mg produksi Indofarma. Foto: Indofarma

Rencana Bisnis Indofarma Tahun 2022

Pada tahun ini, Indofarma akan melakukan proyek implementasi dari 5 proyek pengembangan Alat Kesehatan dan Herbal dengan total investasi yang bersumberkan dari dana SHL (Shareholder Loan) dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 199,86 miliar.

Proyek tersebut yaitu pabrik Medical Furniture dengan nilai pembiayaan investasi Rp 16,53 miliar, proyek Pabrik Elektromedis sebesar Rp 74,98 miliar, proyek In Vitro Diagnostik & Instrument dengan nilai pembiayaan investasi sebesar Rp 71,86 miliar, proyek Natural Extract dengan nilai pembiayaan investasi sebesar Rp 26,49 miliar dan proyek Supporting Function sebesar Rp 10 miliar.

Proyek ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan ketahanan dan kemandirian Industri Kesehatan Indonesia. Target serapan dana PMN untuk pembangunan tersebut ditargetkan selesai di Kuartal II 2023, dan diharapkan pada Kuartal III 2022 dapat beroperasional dan memberikan kontribusi untuk kinerja Perseroan yang lebih baik.