Kumparan Logo

Beda dengan Jawa, Petani di Aceh Gagal Panen Akibat Kekeringan

kumparanBISNISverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi sawah kekeringan (Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sawah kekeringan (Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas)

Kekeringan akibat musim kemarau melanda Aceh sejak beberapa pekan terakhir. Hal ini mengakibatkan Kekeringan sudah memberikan dampak serius di Aceh seperti gagal panen akibat kondisi irigasi sawah kering sehingga petani merugi. Fenomena ini berbanding terbalik dengan Pulau Jawa yang sedang memasuki masa panen raya.

Sekitar 150 haktare tanaman padi milik warga di Tiga Desa, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar, teracam gagal penen akibat dilanda kekeringan. Bahkan tanaman padi yang telah ditanam sejak Desember 2017 lalu, tidak mau tumbuh lagi akibat minimnya air meski telah dibantu dengan mesin pompa.

Kepala Desa Lamsie Kuta Cot Glie, Mundasir, mengatakan masyarakat petani telah berusaha menyalurkan air ke sawah dengan mengeluarkan biaya yang dilakukan secara patungan untuk menyewa mesin pompa air namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

“Air di sungai juga hampir kering, ya harus buat gimana lagi. Padi yang kita tanaman Desember lalu pun telah hangus,” kata Mundasir saat ditemui kumparan (kumparan.com) usai mengecek kondisi lahan sawah miliknya, Selasa (20/2).

Warga Aceh Utara Doa Minta Hujan (Foto: ANTARA FOTO/Rahmad)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Aceh Utara Doa Minta Hujan (Foto: ANTARA FOTO/Rahmad)

Petani yang mengalami kerugian di Tiga Desa di Aceh Besar tersebut ialah warga Desa Lamsie, Barih Lhok, Lamkreng, dan Tanoh Abe. Mereka di sana terancam gagal panen, hampir 50% sawah di Kecamatan Kuta Cot Glie mengalami kekeringan.

"Petani mengalami kerugian hingga mencapai Rp 6 juta per petak sawahnya,” sebut Mundasir.

Sementara itu, salah seorang petani warga Barih Lhok, Kuta Cot Glie, Nursa (50) mengatakan dirinya telah berusaha untuk mengairi air ke sawah dengan cara memompa air mengunakan mesin yang ia sewa sebesar Rp100.000 per hari. Kendati demikan usaha yang telah dilakukannya itu tidak membuahkan hasil.

“Selama satu bulan belakang ini hampir 150 liter minyak saya isi untuk mengalirkan air ke sawah. Tetapi ya seperti inilah kondisi padi sudah kuning. Jika dalam beberapa hari ke depan hujan juga tidak turun mungkin padi akan mati semua,” tuturnya.

Nursa mengaku sebelumnya ia telah mengeluarkan biaya Rp 5 juta untuk membajak sawah. Ia berharap agar hujan segera turun agar padi yang telah ditanamnya tidak mati.

Hal senada juga diutarakan oleh Edi, bahkan dirinya telah membiarkan lahan padinya terbengkalai akibat kekeringan karena ongkos untuk menyewa mesin pompa air mahal.

“Saya tidak ada biaya lagi untuk mengeluarkan uang sewa mesin pompa air, padi saya pun telah mati,” keluhnya.

Edi hanya menaruh harapan kepada pemerintah setempat agar bisa memberikan bantuan dengan membuka irigasi. “Karena sekarang musim sudah tidak menentu lagi, kita minta bantuan untuk bangun irigasi di sini, agar kami bisa kembali menanam padi,” imbunya.